Kamis, 26 Agustus 2010

bakat vs jam terbang

“bakat lo apa sih..??”

sempat beberapa orang nanya hal seperti itu ke gue, dan tiap dihadapkan sama pertanyaan itu, gue cuma bisa nyengir dan angkat bahu karena emang ngerasa ga ada 1 pun bakat yang gue punya. selama ini gue selalu berpikiran kalo gue memang dilahirkan sebagai manusia tanpa bakat khusus apapun. tapi pikiran itu ilang seketika waktu gue ngobrol sama salah 1 temen se-tim gue di bimbel.

saat itu kita dalam perjalanan pulang menuju depok setelah ngadain try out di SMAN 1 Tambun Selatan (tanggal 6 Agustus 2010). sepanjang perjalanan pulang itu, gue yang kebagian duduk di jok belakang mobil bareng dani dan Pak Amin ngebahas masalah hobby. awalnya kita ngomong soal bumbu dapur (oregano), setelah itu Pak Amin cerita kalo dia emang hobby masak.

dani ga mau kalah ceritain kegemarannya di dunia aeromodelling dan fotografi (gara2 diracuni sinung..hehehe). sampe di omongan seputar fotografi, dani sempet nyinggung sedikit soal bakat yang diturunkan lewat darah keturunan. dani bilang gue beruntung karena punya darah fotografer di tubuh gue (pekerjaan bokap gue dulu emang fotografer). Pak Amin akhirnya nanya sama gue apa gue juga suka sama fotografi.

dengan polos gue jawab kalo bokap tidak menurunkan bakat fotografinya ke gue, jadi walaupun beliau pernah ngajarin gue teknik2 dasar fotografi (waktu gue kelas 5-6 SD kalo ga salah), toh nyatanya gue sama sekali ga menguasai bidang itu. Pak Amin lalu memberikan komentarnya yang mengubah pikiran gue soal bakat.

menurut Pak Amin, bidang yang dikuasai oleh seseorang belum tentu dipengaruhi oleh bakat, tapi bisa karena memang orang tersebut senang mempelajari hal itu (jadi hobby), ataupun karena jam terbang dalam menggeluti bidang itu. dan gue sangat setuju tentang jam terbang itu. jam terbang emang sangat mempengaruhi seberapa matang kemampuan seseorang dalam menjalani sesuatu.

seseorang yang orangtuanya punya bakat khusus dalam suatu hal memang tidak menjamin kalo keturunannya juga akan punya bakat yang sama. contohnya dalam keluarga gue, walaupun bokap punya bakat khusus di bidang fotografi, tapi ga 1 pun anaknya yang mengikuti jejak beliau. lagipula, bakat memang bukan hal yang bisa diturunkan melalui gen.

kalo soal mempelajari suatu bidang, itu juga ga menjamin kalo seseorang bakal bisa menguasai 1 bidang tertentu. ada salah 1 tetangga gue yang bertahun2 ikut kursus vokal di salah 1 music course yang cukup terkenal di Indonesia, tapi nyatanya kursus itu sama sekali ga memberikan hasil. jangankan jadi penyanyi, suaranya jadi sedikit lebih bagus pun ga.

soal jam terbang, Pak Amin bilang kalo seseorang yang sudah mendalami suatu bidang selama 10.000 jam, bisa dikatakan orang itu sudah terbilang mahir walaupun dia tidak menggemari bidang tersebut ataupun punya bakat alam bidang itu. orang itu jadi mahir karena jam terbangnya yang membuat dia terbiasa menangani dan menjalani bidang tersebut. sangat masuk akal menurut gue.

paling bagus sih emang harusnya ada semua komponen itu. bakat, mempelajari dan mendalami bidang itu, dan pastinya jam terbang. karena dengan begitu bakat yang udah ada akan makin terasah dengan proses pembelajaran bidang yang ditekuni dan jumlah jam terbang yang tinggi juga akan semakin memperkuat kemampuan yang ada pada orang tersebut.

2 komentar:

Sinungndaru mengatakan...

like this cha.. :D

Acha Enwe mengatakan...

eh ada nung mampir..
like gara2 ada kata2 diracuni sinungnya ya..??
hehehe..
:p

Posting Komentar