Senin, 11 Juli 2011

Warisan

Warisan yang akan gue bahas disini bukan warisan dalam bentuk harta benda, tapi warisan dalam bentuk pekerjaan dan agama, 2 hal yang sangat penting dalam hidup dan kadang jadi hal yang sangat sensitif bagi sebagian orang. Karena itu sebelum gue melanjutkan tulisan ini lebih jauh, gue tegaskan bahwa tulisan ini dibuat bukan untuk menyudutkan seseorang atau komunitas tertentu, tulisan ini dibuat hanya berdasarkan pertanyaan2 di dalam otak gue sendiri akan 2 hal tersebut di atas. Jadi no offense ya..!! Setuju atau tidak dengan pendapat gue disini silahkan di komentari dan dijadikan bahan berdiskusi, tapi harap jangan memberikan komentar diluar etika kesopanan ya.

Agama dan pekerjaan mungkin bukan sesuatu yang bisa diwariskan, tapi disini, di indonesia (dan mungkin di tempat lainnya), entah kenapa suatu agama dan pekerjaan justru menjadi sesuatu yang sifatnya turun temurun layaknya sebuah warisan. Gue akan coba membahas 2 hal itu satu per satu.

Walau pilihan beragama merupakan salah 1 hak asasi yang paling hakiki untuk manusia, namun pada prakteknya lebih sering seseorang memeluk suatu agama karena agama tersebut adalah agama yang sudah turun temurun dipeluk oleh keluarganya. Dengan kata lain seseorang dibatasi untuk belajar tentang agama yang lain karena sudah terdoktrin dengan agama warisan keluarganya itu sebagai agama yang harus dipeluknya. Jarang sekali ada seorang anak dalam 1 keluarga (terutama di indonesia) yang diperkenalkan kepada semua agama dan menyerahkan keputusan mutlak untuk memilih agama kepada si anak. Seringkali persoalan agama ini justru memicu konflik di dalam keluarga saat ada anggota keluarga memutuskan untuk memeluk suatu agama yang diyakininya (yang berbeda dari agama yang diyakini keluarganya).

Contoh yang paling sering terjadi dan juga pernah gue alami sendiri adalah saat ada pasangan yang berbeda agama menjalin hubungan. Terkadang dalam perjalanan hubungan mereka, ada salah 1 pasangan yang akhirnya memutuskan untuk memeluk agama yang sama dengan pasangannya, selain untuk melancarkan hubungan, juga karena dia telah mempelajarinya sendiri dan ternyata merasa yakin dengan agama yang dipelajarinya itu. Namun yang gue lihat selama ini, banyak keluarga (dari kedua belah pihak) yang akan menentang keras sejak mengetahui ada anggota keluarganya yang menjalin hubungan beda agama. Keluarga akan menentang lebih keras lagi saat ada anggota keluarganya itu memutuskan untuk meninggalkan agama yang selama ini dipeluknya tanpa mau mendengarkan alasan atau memberikan pilihan sepenuhnya terhadap orang yang bersangkutan. Dengan begitu, ga salah kan kalo agama juga merupakan sebuah warisan.

Yang kedua, pekerjaan. Soal pekerjaan ini mungkin ga sepenuhnya turun temurun secara langsung. Sering juga kan kita liat ada 1 keluarga yang punya profesi yang sama dan itu ga cuma 1 generasi aja, tapi bisa 2-3 generasi bahkan lebih. Misal ada yang seseorang yang berprofesi sebagai seorang dokter, entah kenapa pasti ada anak dan cucunya yang berprofesi sama. Atau seorang lawyer yang pekerjaannya lantas dilanjutkan oleh keturunannya. Ya sebenernya ga salah jika ada 1 keluarga yang punya profesi yang sama. Mungkin saja si anak merasa kagum dengan keberhasilan orangtuanya sehingga dia ingin mencontoh kesuksesannya dengan menggeluti pekerjaan yang sama dengan orangtuanya atau memang ketertarikan mereka (orangtua dan anak) memang pada 1 bidang yang sama, sama seperti pepatah yang mengatakan bahwa buah takkan jatuh jauh dari pohonnya. Tapi bagaimana jika si anak memang sengaja dipersiapkan sejak kecil untuk mengikuti jejaknya walau si anak sendiri sebenarnya punya ketertarikan di bidang lain. Misal si anak sebenarnya menyukai dunia desain grafis, tapi karena orangtua sukses bekerja di perusahaan minyak, maka si anak kemudian "dipaksa" untuk kuliah di jurusan perminyakan.

Jadi bagaimana dengan kalian..?? Apakah ada yang pernah mengalaminya..?? Apa kalian sependapat dengan gue kalo agama dan pekerjaan adalah sesuatu yang bisa diwariskan secara turun temurun walau tidak secara tertulis..?? Bagaimanapun juga, orangtua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi alangkah baiknya jika orangtua juga memberikan kesempatan untuk anaknya bisa memilih jalannya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar