Minggu, 28 April 2013

Pilih Pekerjaan Atau Orangtua??

Ini sebenernya posting lama yang belum selesai. Gue tulis ini sejak akhir tahun 2012 lalu dan sebenarnya gue persembahkan khusus untuk bokap gue. Tapi karena pikiran gue banyak kebagi akhirnya posting ini baru bisa selesai di akhir April ini atau beberapa minggu setelah bokap ga ada. T_T


Semua orangtua pasti berharap anak2nya sukses. Selalu dapat nilai yang bagus saat sekolah, bisa diterima di PTN-PTS ternama, lulus kuliah dengan IPK tinggi, langsung dapat pekerjaan mapan di perusahaan yang bonafid dengan gaji besar, ketemu jodoh yang berasal dari keluarga terpandang kemudian menikah dan hidup bahagia. Siapa sih yang ga mau?? But life isn't that perfect. Dan itu yang gue alami.

Selesai kuliah gue ngerasain banget yang namanya susahnya cari kerja. Banyak perusahaan dan orang2 yang pernah mewawancarai gue bilang kalo background pendidikan gue ga sesuai dengan minat dan bakat gue, dan itu yang bikin gue selalu gagal cari pekerjaan yang sesuai dengan background pendidikan gue. Gue berakhir dengan ambil beberapa pekerjaan yang sama sekali jauh dari pendidikan gue di bidang hukum, itupun ga berlangsung lama karena idealisme gue terlalu tinggi untuk bertahan di tempat kerja yang suasana dan orang2nya ga bikin gue nyaman. Gue pernah menolak pekerjaan di salah 1 perusahaan walaupun gajinya lumayan dan kantornya dekat dengan rumah gue hanya karena gue mendengar si calon atasan mengeluarkan dirty jokes saat ngomong dengan karyawan lainnya, yang menurut gue hal itu sangat ga pantas diucapkan di kantor sekalipun suasananya akrab.

Sampai detik ini, sudah hampir 3 taun gue berstatus sebagai pengangguran. Dengan status jobless itu sudah banyak hal2 ga enak yang gue alamin. Mulai dari pihak keluarga sampai orang2 yang ga gue kenal banyak yang memandang gue sebelah mata karena status jobless itu. Sampai akhirnya gue berhasil bertahan dan ga malu dengan status jobless tersebut karena 1 alasan. Kondisi kesehatan bokap. Semenjak bokap sakit2an dan sering keluar masuk RS, gue akhirnya memutuskan untuk berhenti apply lamaran dan stay dirumah untuk jagain bokap. Dengan pilihan itu ternyata justru lebih banyak omongan miring yang masuk. Kok bisa2nya ya orangtua sakit tapi malah enak2an dirumah ga cari kerja?? Ga malu apa udah umur segitu tapi masih nganggur, apalagi bapaknya sakit2an gitu, kerja kek daripada dirumah doang!! 


Pernah ada beberapa orang yang menawari gue pekerjaan dengan berbagai macam alasan. Mulai dari yang cuma kasian sama gue, sampe yang motifnya terselubung untuk menaikkan jabatannya dengan merekrut orang baru. Semua tawaran itu berakhir dengan penolakan gue. Mereka kemudian menyebut gue sebagai orang yang sombong dan ga tau diri karena menolak tawaran mereka. Silahkan cap gue sesukanya, tapi gue punya idealisme sendiri yang harus anda hormati.

Ada saat dimana nyokap malu sama keadaan gue yang jobless. Jujur gue pun pernah merasa minder dengan status jobless itu. Gimana engga, hampir semua orang yang bertanya soal pekerjaan gue berakhir dengan mencibir ataupun mengasihani keadaan gue. Sudah banyak perkataan dan perbuatan ga enak dari mereka yang gue terima karena status jobless gue.

Sampai akhirnya gue meyakinkan nyokap agar tutup kuping sama semua omongan ga enak orang2. Gue buktiin ke nyokap kalo tanpa pekerjaan kantoran pun gue masih bisa dapet rezeki. Dan nyokap sekarang jadi bisa sama cueknya seperti gue menghadapi orang2 itu karena beliau tau gimana perjuangan gue merintis bisnis kecil2an gue ini dengan modal nol hingga mulai berkembang seperti sekarang.

Sekarang nyokap bisa dengan bangganya bilang kalo gue punya usaha sendiri ke orang2 yang (masih aja kepo) nanya soal pekerjaan gue. Saat orang2 itu nanya berapa uang yang nyokap keluarin untuk modalin gue usaha, nyokap juga dengan santai akan bilang kalo beliau sama sekali ga pernah keluar uang sepeserpun untuk modalin gue usaha. Yah, walau banyak orang yang ga percaya tapi emang itu kenyataannya.


Gue ga pernah menyesal dengan keputusan gue untuk tinggal dirumah menjadi pengangguran dan merawat bokap. Gue memang ga bisa dapat uang/gaji tapi gue punya banyak waktu yang ga banyak dipunyai orang2 yang bekerja. Gue percaya ini memang jalan dari Tuhan untuk gue supaya gue bisa berbakti sama orangtua gue, terutama bokap.

Gue adalah anak kesayangan bokap, namun gue akui selama ini gue jarang meluangkan waktu untuk beliau. Semasa SMP-SMA saat bokap sudah pensiun, gue sedang asyik2nya dengan dunia remaja dan teman2. Setelah itu gue kuliah di luar kota selama 4 tahun. Begitu lulus kuliah pun gue sempat tinggal di kota lain yang juga jauh dari keluarga. Saat inilah mungkin Tuhan sedang memberikan gue kesempatan untuk mengganti banyak waktu gue yang hilang sama bokap dulu.

Walau banyak orang yang sebenarnya tahu bagaimana keadaan keluarga gue dengan kondisi bokap yang mulai sakit2an, tapi kadang mereka tutup mata. Mungkin buat mereka uang lebih penting dibanding orangtua. Bagaimana gue bisa kerja dengan tenang saat tahu bokap sakit dan sendirian dirumah?? Sekalipun keluarga gue bisa menyewa seseorang untuk merawat bokap, tapi tetap aja hati ga bakalan tenang dan pasti bokap sendiri lebih pengen diurus sama keluarga dibanding orang sewaan.

Coba deh inget2, dulu waktu kita kecil aja orangtua kita selalu panik tiap kita jatuh sakit dan selalu berusaha meluangkan waktu dengan ambil cuti di tengah2 hectic-nya pekerjaan mereka hanya untuk menemani kita yang sedang sakit. Sekarang, saat keadaannya terbalik, saat orangtua kita yang sakit, apakah kita tega lebih mementingkan karir dibanding mereka?? For me, it's absolutely NO. Sangat ga enak harus selalu merasa ketakutan kehilangan orangtua yang mulai sakit2an dan buat gue gaji berapapun ga akan bisa membayar itu semua.

Setelah bokap ga ada, gue akhirnya sadar dengan status jobless gue selama ini gue sudah belajar banyak hal. Pilihan gue untuk menjaga bokap di masa2 sakitnya ternyata ga salah. Gue bisa belajar untuk sabar ngadepin omongan dan perlakuan ga enak orang2. Belajar untuk ngeliat siapa2 aja orang2 di sekitar gue yang bener2 tulus atau cuma pura2 baik di depan gue. Belajar nerima keadaan dan ga ngeluh sesusah apapun keadaan yang gue hadapin, dan banyak hal lainnya. Karena status jobless gue itu, sekarang gue jadi punya usaha dirumah dan bisa ngasih makan oranglain dari usaha kecil gue ini. Gue bisa berubah dari anak manja yang selalu ngumpet diketek orangtua jadi orang yang mandiri juga karena status jobless gue itu dan gue ga pernah menyesal sudah mengambil keputusan itu.

Semoga aja bokap juga bisa bangga sama gue walaupun gue belum bisa ngasih apa2 sampai akhir hayat beliau. Bisa ngebanggain orangtua dengan cara gue sendiri udah lebih dari cukup untuk ngebayar semua rasa lelah dan sakit hati atas hinaan orang2 selama ini. Dan buat orang2 yang secara langsung ataupun tidak sudah memandang remeh gue selama ini, gue cuma pengen bilang, try to put yourself in my shoes and let's see, can you survive with that??

45 komentar:

Anonim mengatakan...

salam kenal..
terima kasih atas artikel yang luar biasa dalam berbagi pengalaman hidup....

2minggu yg lalu persis ayahku terbaring sakit. telpon berdering.... namun jarak aku dan ayah ku terlampau jauh....

ahh... mencoba berpikir...
antara pekerjaan dan orang tua....

tak mudah bagiku...

semoga pengalamanmu dapat mencerahkanku.....

ihya_u@yahoo.com

Acha Satmoko mengatakan...

saya cuma berbagi pengalaman pribadi saja, posting ini juga saya peruntukkan untuk diri saya sendiri supaya setelah sukses nanti saya ga lupa akan hal2 yang pernah terjadi saat saya dibawah.

cuma 1 sih pesan saya, kalo kamu kehilangan 1 pekerjaan, kamu masih bisa cari dan menemukan pekerjaan yang lain lagi. tapi saat kamu kehilangan orangtua, kamu ga akan pernah bisa menemukan gantinya. pergunakan baik2 waktu yang masih Tuhan kasih ke kamu untuk bahagiain orangtua kami selagi kamu bisa. :)

Appry Dz mengatakan...

Gua salut sama loe,yg loe alami sama dengan yg gua alami sekarang

Acha Satmoko mengatakan...

sorry to hear that :(
btw, orangtua kamu cepat diberikan kesembuhan dan kamu juga tetap diberikan rizki yg cukup. aamiin.

Leo Chandra mengatakan...

bikin T_T
hehe..
aku lagi bingung.. pilih karir di kota A dgn salary yg lumayan, tapi jarang sekali bisa meluangkan wktu tuk org tua. atau karir di kota B dgn salary yg cuma separuhnya, tapi bisa seminggu sekali meluangkan waktu tuk org tua.

Acha Satmoko mengatakan...

kalo itu sih tergantung pilihan kamu sendiri, jangan lupa minta pendapat sama restu orangtua juga sebelum ambil keputusan. kalo emang pilihannya ke tempat yang jauh walau ga bisa sering2 ketemu, at least sering2 telpon nanyain dan kasih kabar ke orangtua biar orangtua juga tenang, saya dulu pas kuliah di luar kota sehari bisa 3-4x telpon/di telpon orangtua.

Leo Chandra mengatakan...

keputusannya sudah diambil.. ^^
dan saya skrg di kota A, ada tawaran di kota B yg bikin pengen tapi bikin galau jg..

Acha Satmoko mengatakan...

Good luck buat karier-nya kalo gitu gan.. :)

adam_takaful mengatakan...

Semakin yakin dengan apa yang saya fikirkan.
Pekerjaan/rezeki masih bisa kita cari pengganti, tapi orang yang kita sayangi tidak ada pengganti nya.

I'll resign..!!

Acha Satmoko mengatakan...

waduh main resign2 aja gan. :/

Anonim mengatakan...

Kalo keluarga sakit, ada atau tidaknya kita kalo takdir mati ya mati. Kalo takdir kehilangan ya kehilangan. Lain halnya dengan kerja, bisa kita perjuangkan agar tidak kehilangan kesempatan menuju jenjang yg lebih tinggi.

Acha Satmoko mengatakan...

fyi, posting ini saya tulis bukan buat ngomporin orang untuk dengan gampangnya mundur dari pekerjaannya.

saya tulis ini semua sebagai pengingat untuk diri saya sendiri kalo saya pernah ngalamin situasi yang buruk dan alhamdulillah saya bisa lewatin semuanya tanpa mengorbankan apapun.

saya harap juga bisa jadi masukan untuk orang2 yang baca blog ini supaya bisa pikir panjang saat mau ambil keputusan, biar bisa pertimbangkan mana yang lebih urgent dan memang harus didahulukan.

saya dulu kerja cuma sebagai freelancer di sebuah bimbel yg baru buka yg gajinya bahkan ga sampe 500rb/bulan.

kalo kamu yang ada di posisi saya saat itu, apa akan tetap bertahan kerja dan mengorbankan permintaan ayah kamu yg lagi sakit keras, yg minta kamu, anak kesayangannya untuk jagain beliau?

bukan bermaksud sombong atau tidak bersyukur, tapi buat saya pekerjaan dengan gaji yg hanya segitu ga lebih berharga dengan waktu yang sama punya untuk ayah saya.

bener kata kamu kalo memang sudah ditakdirkan meninggal ya kita bisa apa. tapi apa kamu akan diem aja dan bisa tenang kerja ninggalin ayah kamu yang selalu mohon2 dirawat sama anak kesayangannya?

saat saya resign, ayah saya sudah 2x serangan stroke dan saat itu mengalami pendarahan lambung. beliau makan hanya lewat selang NGT dari hidung dan nyaris ga bisa bangun dari tempat tidur karena vertigo juga.

saya memutuskan resign setelah ngalamin kejadian yang bikin saya ketakutan setengah mati, pas jaga ayah saya sendirian tiba2 beliau kejang2 ga bisa nafas.

dengan kondisi ayah yg seperti itu, ibu yang kerja sebagai PNS yg jumlah cutinya terbatas, kakak yg udah punya keluarga sendiri yg ke-3 anaknya yg saat itu masih balita semua, dan adik yg baru masuk kuliah dan lagi seneng2nya jadi mahasiswa, siapa lagi yang bisa jaga ayah saya selain saya?

dulu saya juga sering denger komen kayak kamu, yg berpendapat kalo pekerjaan jauh lebih penting dari orangtua. tapi dalam kasus saya, orangtua saya jauh lebih penting dibanding pekerjaan saya saat itu. dan alhamdulillah saya ambil keputusan yang tepat.

saat saya jadi pengangguran saya bisa tau mana orang2 yang tulus sama keluarga saya, saya bisa belajar berwirausaha dan punya usaha dari jerih payah saya sendiri yang alhamdulilllah bisa kasih saya pemasukan 2-3jt/bulan sampe sekarang.

jangan pikir selama saya nganggur saya sama sekali ga coba lamar2 pekerjaan, hampir setiap hari saya kirim lamaran, tapi memang Tuhan yang belum kasih jalan saya untuk kerja lagi.

setelah ayah saya wafat, baru jalan saya untuk dapat pekerjaan seperti dibukakan lagi. walau punya track record lama menganggur dan ga punya banyak pengalaman kerja, alhamdulillah saya sekarang bisa dapat pekerjaan sebagai staf SDM di salah satu PTN-BHMN dengan gaji 3jt/bln.

intinya alhamdulillah dengan status pengangguran saya dulu, selalu saja ada rezeki yang mengalir walau tanpa kerja kantoran dan itu saya yakini karena ridho orangtua saya juga.

kamu punya karir bagus tapi orangtua ga ridho juga percuma kan, jalan karir kamu pasti ga akan mulus tanpa ridho dan doa dari orangtua.

maaf sebelumnya, bukan bermaksud untuk menceramahi, saya hanya share pengalaman pribadi saya saja.

have a good day :)

widya wanto mengatakan...

Saat ini saya juga galau..,antara usaha di kota perantauan atau usaha dikampung agar bsa merawat dan menjaga ibu mertua saya..,kbtlan beliau dikampung sendirian hanya ditemani keponakan..mohon sharenya y friends..,tks

Acha Satmoko mengatakan...

coba di diskusikan sama suami aja. karena begitu status kita berubah jadi istri, pendapat yang berhak didengar lebih dulu itu ya pendapat suami.

widya wanto mengatakan...

Maaf sis acha..,kbtlan saya seorg suami..,
Klo istri sangat mendukung untuk pulkam
Dan usaha dikampung..,krna istri sya stunya2nya anak perempuan di klga..,
Dan saya melihat usaha di kota koq krg berkembang..,
Mungkin dengan merawat orang tua akan lebih diberikan kemajuan dalam usaha...,

Acha Satmoko mengatakan...

waduh maaf mas, saya kira cewek. hehe.

kalo menurut saya asal niatnya baik pasti rezeki akan ada aja datangnya walau dari pintu yang ga terduga, apalagi ini niatnya baik merawat orangtua. doa orangtua untuk anaknya tu paling manjur loh. saya udah ngalamin sendiri soalnya.

sekedar saran, kalo mau usaha di daerah harus pinter liat peluang. cari peluang usaha yang masih jarang atau bahkan baru disana. good luck mas buat usahanya, dan semoga ibu mertuanya segera diberikan kesembuhan :)

Hisyam Icham mengatakan...

Salut.
Lagi galau nih, kejar karir di perantauan atau mulai karir dari awal tapi dekat dengan ortu

Acha Satmoko mengatakan...

minta pendapat orangtua sih gimana baiknya, sama bantu solat istikoroh juga

windra gandaya mengatakan...

Yakinlah keberhasilan seseorang bukan diukur berapa besar uang yang di dapat dan berapa hebat jabatannya.
Tapi seberapa besar iya mengapdi kepada ibu dan bapaknya dan orang disekelilingnya yang membutuhkannya.

Ketika kita telah kehilangan kita baru akan menyadari betapa berharganya orang tua melebihi apapun.

Maka jagalah orang tua Selagi mereka ada..

Acha Satmoko mengatakan...

setuju gan. sayangnya masih banyak orang yg nyia2in kesempatan itu.

Bakhtiyar Sierad - Nunutjoe mengatakan...

Saat ini saya merasakan itu gan :'(

muhammad rozi mengatakan...

i am proud of you... thank you for posting this

aip sunda mengatakan...

cerita mu memberikan solusi atas masalahku sekarang. thanks acha.

mustf mengatakan...

cerit lo mirip dgn gw. 3 thn ngnggur. ortu skit. bingung mo ngpein? skill gd. umur 30. kesi inspirsi dunk

Melda Hime Chan mengatakan...

postingan y pas bgt,saya lagi bingung bgt antara kerja atau resign supaya bisa fokus nemenin dan ngrawat ibu yg lagi sakit,,,stlah baca postingan ini sdkit dapat pencerahan,,,bener rejeki udah ada yg ngatur kalau kehilangan pekerjaan msh bisa cari kerjaan lagi tapi ngluangin waktu buat orang yg disayang apalagi orangtua sendiri rasanya itu jauh lebih membahagiakan

Anonim mengatakan...

Semoga kelak menjadi istri shalihah menyenangkan suami dan menjadi calon penghuni syurga dengan mampu merawat orang tua dalam keadaan sakitnya dan nanti mampu merawat serta mendidik anak dengan tangan sendiri sebagai 'ibu profesional'

Ardy Widjanarko mengatakan...

Saat ini umur saya 26. Sejak 2011 hingga sekarang baru merasakan 3 pekerjaan yg dijumlah tidak sampai 1 tahun pengalaman. Sisanya jobless tapi tidak untuk buang2 uang, melainkan merawat kedua orangtua saya. Tidak mudah menjalani diantara teman2 & orang di sekitar yg menikmati hidup dengan uang, pekerjaan & liburan. Tapi saya meyakini Allah punya rencana yg lebih baik.

Riyan Mila mengatakan...

Saia jugaa pengen minta masukan nee antara pekerjaan dan istri. Saia sebagai seorang pegawai di salah satu bank BUMN. Akhir akhir ini saia sering telat masuk kantor karna malam nya saia sering telat tidur soalx istri saia semenjak hamil tdrx agak lama trus di mana lagi kalau pagi saia harus siapkan sarapan buat diri sendiri dan istrix pasti nya abis ngasih sarapan buat istri aku ambilin obat penguat kandunganx abis itu baru bisa siap2 buat ke kantor ke esokan harix di kantor saia kedatangan tamu dari pusat dan saat itu saia kena teguran yg tdk sepantasx dikatakan dpn tmn2 kantor lain. Sampai saat ini kata2 itu msh kebawa dalam pikiranku. Minta masukan nya dong guys krn saat ini saia cmn punya dua pilihan. Tq

Ayu Widya mengatakan...

sangat inspiratif ya sisst blogger nya thx bgt gue jg penh nglamin bgitu tp aq smntra kerja d luar kota klau ada job bgus d dlam kota coba apply biar deket ma ortu, sedih rasanya kalau denger atau tau ortu lagi sakit pas aku kerja di luar kota rasanya pengen resign tapi harus cari2 loker dlu di kampung halaman :) thx y artikelnya jadi pengen nagis :'(

Sudi Anto mengatakan...

Ohhh, itu yg ada di fikiran saya saat ini, orang tua orangtua dan orangtua, ingin rasanya menemani mereka dihari tua nya, ur article make me sad

Mada Maxuly mengatakan...

Setuju. Harus punya pekerjaan kantoran bukan segalanya. Karena orangtua hidup sekali saja, dan adalah pilihan yang sangat mulia untuk memilih berbakti dan merawat orangtua di sisa hidupnya.

Tika Anggraini mengatakan...

Kak saya galau, ekonomi keluarga saya lagi krisis. Saya berniat mencari kerja namun tidak di bolehkan orang tua. Sebagai anak tentu ingin membantu walau tak banyak.jadi saya harus bagaimana?. Jika ingin membuka usaha di pikiran saya pasti butuh modal. Saya bingung harus bagaimana.

Ikhsan Erika mengatakan...

Hay.. Saya seorang pelaut dan berada di luar negara.. Ayah saya sekarang ini lg berbaring di rmah sakit.. Saya anak laki2 paling tua dan paling di sayang sama ayah saya.. Saya jg udah berkeluarga punya anak satu.. Aku minta pendapat kalian semua, apakah aku harus pulang dan ikut merawat ayahku atau ttep nglanjutin berlayar? Karna saya jg ada keluarga yg saya harus hidupin.. Tolong pendapatnya kawan, lg binggung nii. Trimakasih

INDOGARDEN mengatakan...

dari kecil gw dididik mandiri, sejak SD sampai smp kalau mau jajan diluar disuruh cari uang sendiri. orang tua sibuk bekerja. ketika lulus smp disuruh sekolah diluar kota(merantau)agar mandiri dan bs cari kerja. lulus stm pengen ngelanjutin usaha keluarga biar bisa kerja di kampung sendiri tapi gak boleh, disuruh kerja merantau keluar kota (biar bisa kaya seperti tetangga2 yg merantau --tidak diperhatikan yg gagal--). setelah bertahun2 jungkir balik sampai menggelandang dirantau, sekarang sudah agak mendingan walaupun pas2an. makan,menikah,dll dengan keringat sendiri(freelance). tapi agak susah majunya. selidik punya selidik dari seringnya ngobrol dngan orang tua....ternyata mereka kurang restu(kurang setuju) gw merantau. lhaah?

INDOGARDEN mengatakan...

ada yg bilang, restu orang tua adalah utama. saat mereka sudah lanjut usia dan mulai sakit2an, secara manusiawi ortu akan lbh memilih anaknya mendampinginya dibanding tanggungjawab anaknya terhadap keluarga yg baru dia bangun. orang tua yg pengertian terhadap keinginan anaknya, maupun anak yg mau mengerti dan sabar terhadap kemauan ortunya, adalah berkah. but... life not like that bro, tak selalu seperti keinginan kita. so, apapun keputusanmu, diluar efek negatifnya(yg biasanya selalu kita ketahui), tentu ada efek positifnya (yg biasanya belum kita ketahui --->harapan). sama puyengnya kayak gw broh.

INDOGARDEN mengatakan...

turuti kemauan ortu, dan lihatlah hasilnya 3 tahun kedepan. baik ortu maupun anda, akan dapat hikmahnya.

INDOGARDEN mengatakan...

lagi sue broh. salah sayu contoh kisah yg jarang dipublikasikan di internet (biasanya yg dipublikasikan yg berhasil,mana bisa yg gagal akan mempublikasikan kisahnya? membuka aib sendiri dan belum tentu punya dana untuk gaul dgn internet).

INDOGARDEN mengatakan...

sama broh. admin sekedar berbagi kisahnya, tetap saja pilihan beserta resiko tiap individu sendiri yg nanggung. so, ambil keputusan dan siap2 efeknya. contoh : bagaimana bila kisahnya merawat tidak bisa (walaupun dekat = biaya darimana untuk merawat kalau tdk ada kerjaan sama sekali? ingat : ibunda admin adalah pns jd ada dana walaupun kecil).

INDOGARDEN mengatakan...

lagi sue broh. salah sayu contoh kisah yg jarang dipublikasikan di internet (biasanya yg dipublikasikan yg berhasil,mana bisa yg gagal akan mempublikasikan kisahnya? membuka aib sendiri dan belum tentu punya dana untuk gaul dgn internet).

INDOGARDEN mengatakan...

turuti kemauan ortu, dan lihatlah hasilnya 3 tahun kedepan. baik ortu maupun anda, akan dapat hikmahnya.

Si jobless mengatakan...

Ceritanya mirip dgn kehidupan aku saat ini..
Aku punya adik tapi saat ini sudah menikah dan tinggal di rumah istrinya.
Sedangkan aku sebagai Abangnya masih blm nikah...
Aku tinggal dirumah bersama ibuku.
Sedangkan ayah ku sudah lama wafat.
Kini aku menjadi pria yg merawat ibuku.
Layaknya seperti wanita.
Dulu aku sempat kerja di salah satu perkantoran meskipun tak lama .
Ketika itu ibuku sering keluar masuk RS terakhir paling lama di RS 2 Minggu.
Bahkan aku ngantor aja turunnya​ dari RS . Udh kyk penginapan rumah kedua gue.

Dan pada saat ini Alhamdulillah ibuku sudah sehat seperti biasa.

Sudah 4bln aku menjadi pria jobless. Ya yg namanya jobless gak luput dari cibiran tetangga.dan
Selama 4bln itu selalu jauh dari dunia luar. Ya sebelum sebelumnya gue emang gak suka dgn dunia luar. Kecuali pada masa SMP Ama SMA dulu..
Semasa masih jobless dan udh gak kerja di kantor. Aku cuma bisa Nemani ibuku dirumah..
Pada akhirnya aku dapat lowongan dari keluarga. Tapi dgn keadaan lokasi kerja sangat jauh. Dari kota gue ke kota sebelah sekitar 1 jam. Lagian pekerjaan baruku ini hanya bisa pulang 1 thn sekali. Dan ini menjadi faktor yg bikin pikiran aku jadi kacooo. Sambil baring di sopa. Aku mikir (kalo aku kerja gimana mamaku? Sedangkan mamaku sering sakit, bahkan dirumah hanya aku Ama mamaku. Adikku ditempat istrinya. Dia juga mau kerja di PT. Bakalan lama...?
.aku bingung. (Kalo aku gak kerja masa depan ku gimana? Gak mungkin kan sampai tua gini melulu? Sedangkan usiaku sudah menginjak 27thn sudah tak selayaknya seorang pria berusia 27thn tinggal dirumah dgn seorang ibu. Untung saja ibu saya pensiunan . Pensiunan itu buat menyambung nyawa aku dan ibuku.
Tapi gak mungkin aku selalu fokus Ama hasil orangtua . . Jadi saat ini aku masih bingung mau cari orang buat ngerawat ibu dirumah aku gak tega. Bakal jadi pikiran aku bahkan kerjapun bakal gak konsisten. Blm tentu orang lain yg merawat ibuku seperti aku . Bisa jadi pas aku kerja keluar kota dia keasikan Ama HP nya... Nah ini udh pasti. Aku terus terang sama kalian. IBU AKU ITU ORANGNYA POLOS MESKIPUN UDH DI BENCI ORANG TETAP SAJA ORANG YG BENCI SAMA IBU AKU, BEBERAPA HARI KEMUDIAN DI AJAK MAKAN DI RUMAH , TIDAK ADA RASA DENDAM. ntah aku gak tau sifat ibuku kok bisa baik Ama orang yg udh ngejudge di depan orang ramai. Bahkan temen ibuku sampai bilang kyk gini sama ibuku. (KAMU MASIH MAU NERIMA ORANG YG UDH MENCACI MAKI KAMU DI DEPAN ORANG RAMAI? KALO AKU JADI KAMU UDH AKU USIR) ibuku cuma bisa senyum dan berkata. (Biar kan saja. Allah itu maha tahu, Allah gak buta) njiiir dalam hati gue berkata. Ini kalo adik aku yg tau bakal di tonjok dia yg udh bikin malam ibuku. Tapi entah kenapa hati aku juga gak ada rasa dendam dengan orang yg udh ngejudge ibuku, meskipun dia dirumah gue sambil ngeteh dan makan kue, bahkan makan nasi. Jadi ini aku rahasiain dari adikku.. jangan sampai dia tau.

Kembali lagi soal pekerjaan aku .

Dan saat inipun aku masih bingung pilih yg mana. Ibu apa kerja? Semoga Tuhan membuka jalanku.

Si jobless mengatakan...

Minggu ini aku di suruh pak boss jadi tangan kanannya. Tapi aku sudah bilang Ama pak bossku .
(Pak bukanya aku nolak pekerjaan yang bapak amanahkan untuk saya. Mungkin diluar sana masih banyak orang dgn lulusan serjana yg butuh pekerjaan seperti saya!. Tapi dgn ini aku cuma bisa berkata dengan memberi pengertian bos ku. Alhamdulillah bos aku pun mengerti dengan kondisi aku saat ini. (Faktor orangtua) beliau sering sakit? (Ujar bos ku, sambari aku berkata iya dan mengangguk kepala)bapak mengerti kondisi kamu saat ini. Jika kamu butuh kerja dan sudah mencari orang buat ngerawat ibu kamu, kamu bisa hubungi bapak saja, kesempatan kamu selalu terbuka(ujar bos ku).
Kyk film sinetron hatiku pun berkata (ini bos baik banget!? Padahal baru beberapa bulan dia kenal sama aku! Mungkin ini jawaban Allah untuk aku. Restu orang tua itu mustajab. (Jadi ini yg bikin aku semangat merawat ibuku)

Acha Satmoko mengatakan...

Duh udah lama jarang buka komen jadi numpuk banyak banget komen2nya. mohon maaf sebelumnya kalo saya ga bisa balesin komennya satu2 ya.

Untuk yang masih galau mau kerja tapi berat meninggalkan orangtua yang butuh didampingi, saran saya berdoa minta petunjuk, diskusikan dengan orangtua dan tanya hati sendiri nyamannya gimana. jangan sampai kita udah putuskan merawat orangtua tapi di hati ga sreg nanti malah ga dapet pahala.

masih banyak jalan kok yang bisa dipakai untuk cari penghasilan selain kerja kantoran dan saya juga pernah tulis beberapa posting disini tentang itu semua. monggo kalo mau dibaca siapa tahu bisa membantu.

http://cha2enwe.blogspot.co.id/2013/08/tokopedia-awal-langkahku-di-bisnis.html

http://cha2enwe.blogspot.co.id/2012/12/wirausaha-tanpa-modal-part-1.html

http://cha2enwe.blogspot.co.id/2012/12/wirausaha-tanpa-modal-part-2.html

itu beberapa posting yang pernah saya tulis di masa2 jobless saya, saya jalani sendiri. berwirausaha tanpa modal sepeserpun juga memungkinkan kok, selama niat kita cari rezeki halal pasti akan dimudahin jalannya.

alhamdulillah saat ini saya bekerja sebagai PNS sesuai harapan almarhum ayah saya. pekerjaan saya saat ini juga butuh perjuangan untuk dapetinnya, bisa dibaca di postingan saya juga. walau udah kerja kantoran tapi saya juga masih nerusin online shop saya karena memang lumayan pendapatannya, kadang malah lebih besar pemasukan dari wirausaha saya daripada gaji bulanan saya.

so, buat yang masih galau soal pekerjaan, jangan patah semangat ya!!

ara's b/vlog mengatakan...

Saya seorang fresh graduate. Umur saya 23 th. saya memiliki seorang adik yg masih SMA, namun sekolahnya di luar kota. Saya memiliki seorang ayah, tapi tidak dengan ibu, karena beliau sudah meninggal 7 th yg lalu.

Saya ingin bercerita sekaligus sedikit bertanya kepada siapa saja pembaca komentar saya.

Akhir-akhir ini saya mendapatkan tawaran pekerjaan di salah satu bank di Indonesia yg terletak jauh dari rumah (luar kota). Pekerjaan yg lumayanlah penghasilannya.
Tapi disini masalahnya,
Dulu sebelum ibu saya meninggal, beliau pernah berpesan kepada saya. kalau suatu saat beliau pergi, beliau ingin saya menemani ayah.
Namun, ayah saya menyuruh saya untuk mengambil pekerjaan ini.
Sedangkan saya tau, ayah saya akhir" ini tidak dalam keadaan yg sehat (umur ayah 51 th). Dan adik saya jg bersekolah diluar kota.

Bagaimana tindakan saya sebaiknya menurut teman" sekalian ?

Untuk sekedar informasi, ayah saya ini termasuk orang yg pendiam, terutama masalah penyakit. Beliau tidak akan cerita penyakitnya. Dan bisa bercerita hanya kepada anak"nya saja

Unknown mengatakan...

Hmm, saya ingin cerita, saya fresh graduate ,waktu itu saya ikut perekrutan suatu perusahaan di sekolah saya dan saya diterima, tpi tempatnya jauh dari rumah, stelah saya masuki trnyata saya tidak nyaman bekerja disini, ingin bekerja ditempat yg dekat rumah dan bertemu orang tua setiap hari pdahal sudah 6 bulan bkerja di disini tpi tetap tdk bisa mnemukan suatu kenyamanan krn jauh dri orang tua dtmbh job saya yg benar2 harus bergerak 9 jam penuh dan gk ada santainya, seandainya mreka dikota yg sama mungkin sya masih bisa mengatasi pekerjaan saya..
Tpi jauh dari orang tua benar2 membuat sya tdk bisa bekerja dengan ikhlas krn tdk adanya suatu kenyamanan, jdi seandainya saya kluar dari prusahaan dan mncari pkerjaan di dekat2 rumah apa suatu keputusan yg tepat ? Ato sya hrus tetap bertahan walau tdk merasakan kenyamanan ?

Posting Komentar