Rabu, 01 April 2020

Tips Bagi Generasi Rebahan : Anti Mati Gaya Ketika Harus Di Rumah Aja

Terhitung sejak awal Tahun 2020, banyak gejolak yang terjadi, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Puncaknya ketika virus corona mulai merebak. Berawal dari Wuhan China, hingga akhirnya sampai ke Indonesia. Data per hari ini saja (31/3) sudah 1000 orang lebih dinyatakan positif Covid-19 sampai2 Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengambil langkah antisipasi dengan menerapkan Social Distancing di masyarakat yang awalnya diterapkan mulai tanggal 16 Maret sampai dengan 31 Maret 2020 kemudian diperpanjang hingga tanggal 21 April 2020, perkantoran juga banyak yang sudah memulai gerakan Work From Home (WFH) bagi para pegawainya demi mentaati himbauan Pemerintah untuk melakukan Social Distancing.

Bagi pekerja kantoran yang melakukan WFH mungkin waktu beberapa minggu dirumah tidak akan terasa karena akan banyak pekerjaan kantor yang bisa dikerjakan dirumah, tapi biasanya bagi para anak muda yang biasanya melakukan aktivitas diluar rumah yang sekarang dipaksa jadi generasi rebahan pasti bakalan bosen banget di rumah aja ga ngapa-ngapain kan. Berikut beberapa hal bermanfaat yang dapat dilakukan selama masa Social Distancing biar ga mati gaya ketika terpaksa harus #Dirumahaja 

1. PERBANYAK IBADAH

Sudah banyak dokter yang menyarankan untuk lebih menjaga kebersihan. Nah untuk yang muslim selain kita sudah pasti bersuci dengan wudhu minimal 5 kali sehari, kesempatan dirumah ini bisa jadi kesempatan besar buat bisa lebih banyak ibadah. Ibadah2 sunnah yang mungkin selama ini jarang dilakukan seperti Solat Dhuha bisa dirutinin tuh. Selain dapat pahala kan jadi bisa lebih sering bersuci juga sehingga bisa meminimalisir kemungkinan terimfeksi Covid-19. Jangan lupa buat sering-sering baca AL-Qur'an juga selama di rumah aja, kamu bisa targetin buat khatamin Qur'an selama masa Social Distancing ini.

2. BEROLAHRAGA

Selain menjaga kebersihan, Olahraga juga disarankan banget buat meningkatkan daya tahan tubuh. Mentang-mentang di rumah aja jangan sampai males gerak ya. Nanti malah jadi ga sehat loh! Kamu bisa olahraga sendiri di rumah. Banyak video di internet yang bisa dijadiin tutorial yang memungkinkan kamu bisa olahraga sendiri di rumah tanpa harus punya alat-alat olahraga yang lengkap. Buat yang suka latihan beban bisa pakai beban tubuh sendiri atau pakai benda-benda disekitarnya.

3. MEMBANGUN PASIF INCOME

Kamu juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan walau dirumah aja loh, misal dari ngeblog atau ngevlog. Selain bisa mengisi waktu luang kamu, kamu juga bisa dapat tambahan penghasilan loh dari hobi baru kamu ini kalo kamu bisa menghasilkan tulisan atau video yang menarik. Selain itu, kamu juga bisa memulai usaha online shop, banyak penjual yang membuka kesempatan dropship bagi kamu yang ingin usaha tapi ga mau ribet ngurusin stok barang.

4. MENGERJAKAN HOBI

Masa dirumah aja ini pasti bakalan jadi masa yang menyenangkan buat orang-orang yang punya hobi. Karena dimasa ini kamu punya banyak waktu buat ngerjain hobi kamu. Misal kamu suka melukis, pasti akan banyak lukisan yang akan kamu hasilkan saat ini. Buat yang belum punya hobi yang spesifik kamu juga bisa mulai eksplore kira-kira apa hal yang menurut kamu menarik yang bisa dijadikan sebagai hobi kan.

5. MENIKMATI WAKTU DENGAN KELUARGA

Sebelum dilakukan Social Distancing pasti banyak yang ga punya banyak waktu untuk quality time sama keluarga karena kesibukan masing-masing. Nah moment harus dirumah aja ini bisa jadi kesempatan buat kamu untuk bisa lebih dekat dengan keluarga. Buat yang sudah menikah mungkin bisa ngobrol lebih intim dengan pasangan, yang sudah punya anak bisa main lebih sering dengan anak. Yang penting gadgetnya disingkirin dulu ya, jangan sampai udah moment-nya ada tapi pas ngumpul malah sibuk sama gadget masing-masing.

6. BELAJAR HAL BARU

Punya banyak waktu luang pastinya harus bisa digunakan untuk hal yang bermanfaat kan. Di zaman yang udah canggih banget sekarang ini, gampang banget orang mau belajar sesuai secara online. Mau masak resep baru buat ibu2 yang ga bisa masak tinggal buka youtube. Buat yang tertarik untuk belajar bahasa, juga banyak kelas-kelas belajar bahasa secara online mulai dari yang gratis hingga berbayar yang bisa diikuti. Tinggal kamu sesuaikan aja dengan minat dan bakat kamu ya.

Gimana? Menarik kan? Dijamin ga bakalan mati gaya deh selama dirumah aja. Daripada kamu cari cara buat curi-curi kesempatan keluar rumah buat hal yang ga penting-penting banget, mendingan cobain cara diatas aja. Selain bisa mengusir rasa bosan kamu, inget deh dengan kamu stay home seperti anjuran Pemerintah, itu berarti kamu sudah membantu Pemerintah dan para pahlawan medis yang sekarang sedang berjuang melawan Covid-19 untuk memutus mata rantai penyebarannya supaya Indonesia bisa segera bebas dari Virus ini. Inget loh, kamu ngerasa sehat belum tentu kamu ga terinfeksi virusnya, sekalipun daya tahan tubuh kamu bagus, kamu tetap bisa jadi penyebar virus buat sekitar kalo kamu ga waspada. So, mari kaum rebahan kita di rumah aja biar virusnya bisa pergi sebelum Ramadhan datang, jangan sampai ibadah puasanya nanti ditemenin sama Covid-19 juga. Aamiin!! Ayooo pada bilang Aamiin semua...

Rabu, 25 Maret 2020

Tutorial Cara Penyusunan Kamus Kompetensi Teknis Jabatan ASN



Halo Teman-teman ASN, dalam rangka Social Distancing yang akan dilakukan hingga tanggal 21 April 2020, banyak Instansi Pemerintah yang melakukan Work From Home, salah satunya adalah Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Untuk mempermudah para stakeholder terutama yang sedang melakukan proses penyusunan Standar Kompetensi Jabatan ASN, video berikut bisa disimak.

Video berikut adalah video tutorial cara penyusunan kamus kompetensi teknis. Kamus Kompetensi Teknis ini yang nantinya sangat berperan dalam penyusunan Standar Kompetensi Jabatan ASN. Untuk pertanyaan bisa disampaikan melalui kolom komentar ya. Insya Allah akan saya jawab sebisanya. Terima kasih.

Selasa, 28 Januari 2020

Curcol Orangtua Bekerja, Ortu Kerja - Anak Kurang Kasih Sayang?

Gue adalah salah 1 anak di dunia yang lahir dan dibesarkan oleh orangtua yang dua-duanya bekerja. Banyak anggapan yang bilang kalo anak-anak dari kedua orangtua bekerja biasanya hubungannya tidak harmonis dengan orangtuanya karena jarang bertemu dan tidak mendapat sentuhan kasih sayang yang layak seperti anak-anak lain yang ibunya di rumah, buat gue pribadi alhamdulillah gue ga merasakan seperti itu. Alhamdulillah gue ga pernah merasa kekurangan kasih sayang atau waktu sama keluarga gue. Alhamdulillah komunikasi gue dengan orangtua sangat lancar dan akrab, masa kecil gue juga bahagia dan ga pernah ngerasa beda dengan anak-anak lainnya.

Buat gue orangtua gue termasuk yang sukses membesarkan dan mendidik anak-anaknya walaupun mereka berdua sama2 bekerja. Alhamdulillah gue punya orangtua yang bertanggungjawab terhadap anak-anaknya dan berusaha tetap meluangkan waktunya buat anaknya walaupun mereka sibuk dan ga punya banyak waktu sebanyak orangtua lainnya. Prinsip mereka yang gue tahu adalah anak-anak itu amanat paling berharga dari Tuhan untuk mereka dan mereka sendiri juga ga pernah mau kehilangan moment sedikit pun dengan anak-anaknya.

(pic from here)

Dari cerita orang-orang dekat kayak tetangga ataupun orang-orang yang pernah ikut membantu orangtua gue mengasuh gue dan saudara-saudara gue, walau sibuk orangtua gue tetap berusaha menjalankan kewajiban mereka sebagai orangtua, salah satunya memandikan dan memberi makan. Saat gue dan 2 saudara gue lainnya masih bayi, sebelum berangkat bekerja, orangtua gue terutama nyokap selalu mengurus bayinya dulu, mandiin, siapin susu dan makannya, sampai sterilin semua botol-botol susu yang seharian itu akan dipakai. Pokoknya waktu orangtua gue berangkat kerja bayinya sudah bersih, rapih dan kenyang. Dan mereka juga selalu berusaha pulang tepat waktu biar waktu mandi sore anaknya bisa sama mereka, minimal sebelum magrib mereka sudah ada di rumah. Yah singkatnya, pengasuh gue cuma bertugas untuk jagain, kasih makan/susu saat siang sampe sore sampai orangtua gue pulang.

Semua itu berlangsung sampai anak-anaknya besar. Mungkin karena terbiasa dengan rutinitas itu, maka gue dan saudara-saudara gue sudah mandi dan rapih, bahkan sarapan walaupun jam berangkat sekolah gue masih lama dari jam berangkat kantornya orangtua gue. Saat sekolah pun orangtua gue selalu berusaha nemenin anak-anaknya buat ngerjain PR walau gue tau kalo mereka pasti capek banget. Makan malem selalu sama-sama. Ada 1 ritual yang selalu gue lakukan sama bokap tiap sore. Dulu tiap bokap pulang kerja, setelah beliau mandi, gue duduk dipangku di teras rumah dan kita nyanyi-nyanyi sampai magrib. Setelah magrib kita masuk ke rumah dan makan malam. Ada kebiasaan bokap juga sebelum tidur selalu ngedongengin gue, entah dengan cerita anak-anak ataupun cerita karangannya sendiri. Kadang saking capek dan ngantuknya bokap ketiduran pas ngedongeng.

Sekarang ketika gue sudah berkeluarga, gue dihadapkan pada situasi yang sama. Gue dan suami juga sama-sama bekerja. Alhamdulillahnya kami bekerja di kantor yang sama, yang bisa saling tahu jadwal dan kesibukan satu sama lain. Kami pakai pengasuh yang pulang pergi (PP), datang sebelum kami berangkat dan baru pulang setelah salah satu dari kami sampai kerumah dan hanya masuk di hari kerja saja. Weekend dan hari libur nasional pengasuh kami liburkan. Alasan kenapa kami pakai pengasuh yang PP dan bukan yang menginap salah satunya adalah kami ga mau anak kami tergantung dengan kehadiran pengasuhnya. Kami ingin anak kami tetap dekat dengan kedua orangtuanya walaupun kami berdua adalah orangtua bekerja. Alhamdulillah sih usahanya kami ini berhasil. Elle (anak kami) selalu menunggu kami pulang untuk melakukan aktivitas bersama. Dengan cara ini kami juga dipaksa untuk mengalah dengan ego kami.

(Elle dan Papapnya)

Sepulang kerja selelah apapun kami tetap harus menemani Elle bermain, membaca buku sama-sama, makan malam bersama, belajar dan eksplorasi banyak hal sama-sama. Oia, Elle bukan anak yang kami biasakan dengan gadget, bahkan Elle tidak terbiasa menonton TV. Ada TV dirumah tapi fungsinya untuk menonton film2 download-an (ga ada saluran/chanel TV karena ga ada antenanya). Terkadang kami sengaja cuti bersamaan untuk ajak Elle jalan-jalan bertiga tanpa kehadiran nanny-nya. Elle di umurnya yang ketiga tahun ini sudah terbiasa dan mengerti jika situasinya seperti itu. Weekday selama jam kerja Elle sama nanny selebihnya sama orangtuanya. Dan misal ketika gue sakit dan ga masuk kerja, gue stay dirumah untuk istirahat, pengasuh tetap gue suruh masuk untuk bantu jagain Elle dan pas kejadian kayak gitu Elle tetap aja milihnya lebih ke gue dibanding sama nanny-nya walaupun dia tau gue lagi sakit.

Dengan pengalaman yang gue alami sendiri baik sebagai anak dari orangtua yang keduanya bekerja maupun sebagai orangtua yang bekerja. Gue sih ga setuju kalo banyak yang bilang anak-anak dengan kedua orangtua yang bekerja itu kurang kasih sayang, pembangkang, dan segala macam image negatif lainnya. Mungkin ada yang seperti itu, tapi ya ga fair juga kalo sampai disama ratakan. Balik lagi sih ke komitmen masing-masing orangtua bekerja ya. Jangan sampai pekerjaannya mengambil seluruh perhatian dan kebutuhan kasih sayang si anak. Setuju kan?

Jumat, 15 November 2019

Working Mom VS Full Time Mom

Kayaknya kalo ngomongin topik ini tuh ga akan ada habisnya ya, udah dari zaman dahulu kala selalu aja jadi bahan perdebatan. siapa yang lebih hebat? siapa yang lebih layak sebagai ibu? siapa yang lebih keren? dan hal-hal semacam itu lah pokoknya.

Karena tidak semua perempuan beruntung punya orangtua atau suami yang kaya raya yang bisa mencukupi segala macam kebutuhannya tanpa mengharuskan mereka untuk bekerja di luar rumah. Keputusan untuk jadi wanita karier itu nyatanya yang membuat kami bisa bertahan hidup, bukan cuma untuk memenuhi egoisme pribadinya, prestige, eksistensi atau kedudukan, tapi kebutuhan untuk bisa bertahan hidup walau sekedar dalam batas layak dan bukan yang berkelimpahan.

working mom vs fulltime mom
gambar pinjem dari sini

Banyak yang selalu membandingkan anak hasil asuhan ibu rumah tangga dengan ibu pekerja, banyak anak dari ibu pekerja dinilai sebagai anak yang broken home, bermasalah, pemberontak, dan segala macam hal-hal buruk lainnya.

Buat gue, baik ibu rumah tangga atau ibu pekerja sama mulianya. so please jangan pernah dibanding-bandingkan lagi lah. karena keadaan di lapangan dengan teorinya bisa sangat berbeda. Buat gue perbandingan antara working mom dengan stay at home mom itu bukan perbandingan yang apple to apple, kalo mau ngebandingin itu sesama working mom atau sesama stay at home mom, working mom yang tanpa nanny atau yang dengan nanny atau stay at home mom yang pakai nanny dan yang tidak, itu baru sebanding kalo menurut gue.

Gue sendiri adalah anak dari seorang working mom juga, apakah kemudian gue jadi ga deket sama orangtua gue? Gue sangat sangat sangat dekat sama bonyok gue. Gue sendiri sekarang pun menjalani peran ganda, jadi Orangtua yang juga bekerja diluar rumah. Anak gue sekarang umurnya hampir 3 tahun (bulan depan genap 3 tahun) dan alhamdulillahnya dia tetep deket juga sama gue dan papapnya. Kita pakai nanny tapi tetap masalah pendidikan atau belajar ya baliknya ke orangtuanya lagi. Ibaratnya nanny hanya bantuin kita jagain si anak di jam kantor kita. Untuk di gue, nanny gue itu pulang dateng jam 5 pagi dan pulang begitu gue/adek gue/nyokap gue sudah ada yang pulang salah satunya. Weekend anak full sama kita. Kalo pas gue ga ngantor misal karena sakit dan si nanny ada dirumah juga, anak gue selama ini sih lebih milihnya nempel sama gue. Intinya gue ga setuju lah dengan stereotype kalo anak dari working mom itu kualitasnya ga lebih bagus dari anak-anak yang diasuh sama full time mom.

Dari kacamata working mom, gue yakin semua working mom sebenernya pengen banget bisa ada di posisi para full time mom ini, siapa sih yang ga mau 24 jam sama anak? Harus bangun subuh2, kadang pas mau berangkat kerja ada drama anak nangis ga mau ditinggal, trus kalo pas terpaksa harus lembur pulang malem atau dinas keluar kota, belum lagi kalo pas anak lagi sakit, duh itu rasanya patah hati banget lah buat working mom. Gue pribadi ngerasain banget kayak gitu, pernah gue pas belum lama cuti habis, anak gue sakit nih tapi gue tetep harus ngantor, itu dikantor gue ga fokus sama sekali, sampe akhirnya nangis di toilet karena kepikiran terus sama anak dirumah, bawaannya pengen pulang terus.

Tapi kayak yang udah gue tulis di atas, ga semua perempuan yang udah jadi ibu bisa dapat keistimewaan bisa jadi full-time mom. Banyak yang terpaksa harus jadi working mom karena kalo dia ga kerja, keluarganya ga bakalan bisa makan karena dia satu-satunya tulang punggung keluarga. Kalo ada yang bilang kan bisa kerja dirumah sambil jaga anak, itu buat yang ada modal ada kemampuan finansialnya baik mungkin bisa, tapi rezeki orang kan beda-beda ya, banyak yang ga punya modal atau skill sama sekali buat bisa menghasilkan uang dari rumah. Banyak juga kan full-time mom yang sebenernya malah pengen kerja, itupun juga gue jamin bukan sekedar buat gaya2an doang tapi karena emang pengen cari tambahan buat keluarga. Ya ga? Cuma pada akhirnya tetap jadi full-time mom karena memang sikonnya memang ga memungkinkan juga untuk dia kerja diluar rumah.

Gue sendiri jujur dalam hati gue yang terdalam pengen banget cepet2 resign dari pekerjaan gue, tapi memang sikonnya belum memungkinkan. Gue masih ada KPR yang jangkanya 7 tahun lagi atas nama gue yang ga bakalan bisa dilunasi sama suami gue seorang diri. Gue sendiri sudah menyusun rencana bakalan ambil pensiun dini ketika waktu gue sudah cukup (fyi, ada ketentuan pensiun dini yang harus dipenuhi di PNS). Dan di sepanjang masa persiapan itu gue harus usahakan dan persiapkan segalanya dengan matang mulai dari sekarang. Belajar dari pengalaman yang gue rasain sendiri sebagai anak dari seorang working mom, akan ada saatnya kita harus berusaha dan mengandalkan diri kita sendiri sebagai perempuan.

Gambar terkait
ilustrasi dari disini

Nyokap dulu pernah cerita kalo dulu dia pernah disuruh resign sama alm bokap gue dengan alasan suruh fokus aja ngurusin anak-anak biar bokap gue yang cari duit buat nafkah keluarga. Tapi nyokap gue ga mau, dia bersikeras mau tetap bekerja karena ga mau terlalu gambling sama masa depan terutama untuk anak-anaknya. Fyi, nyokap-bokap gue itu beda umurnya jauh banget, bokap kelahiran 1943 sedangkan nyokap gue kelahiran 1961, itung sendiri deh tu beda umurnya berapa. Pasti akan ada 2 pihak ini yang pro dan kontra kalo tau nyokap gue menolak resign dari pekerjaannya. Pasti akan ada yang bilang durhaka sama suami. Tapi bakalan ada yang bilang itu keputusan yang tepat.

Sedikit sharing, jadi di tahun 1999 pas indonesia lagi krismon itu, bokap gue pensiun. Itu gue di tahun itu masih SD, abang gue SMP dan adek gue baru mau masuk SD. Kebayang ga kalo seandainya nyokap nurutin permintaan bokap buat resign? Mungkin gue dan saudara2 gue ga bakalan bisa sekolah, jangankah sampe kuliah bisa lulus SMA aja belum tentu. Belum lagi di tahun 2011 bokap gue terkena stroke (sakit2annya mulai dari tahun 2009), dengan nyokap gue bekerja semua pengobatan bokap semasa sakitnya itu ditanggung sama kantor nyokap. Kebayang ga kalo nyokap nurutin permintaan buat resign? Bisa2 rumah dan segala isinya bakal kejual hanya untuk nutup biasa pengobatan bokap yang ga sedikit. Sedikit gambaran, bokap pernah dirawat selama 2 minggu di salah satu RS swasta di depok, yang padahal udah ditanggung biayanya pake Askes aja itu kita masih harus keluar uang sekitar 30 juta untuk pengobatan dan tindakan yang tidak di cover. Jadi gue sangat bersyukur nyokap gue mengambil tindakan yang tepat untuk tidak menuruti bokap saat itu, yang pada akhirnya toh bokap juga restuin istrinya jadi wanita karier ya memang karena bukan buat diri sendiri aja.

Makanya gue suka sedih aja kalo liat grup yang gue ikutin atau poas ngobrol sama temen yang sama2 ibu2 juga padahal, yang kadang suka sharing sesuai yang agak mendiskreditkan orang2 yang jadi working mom kayak gue. Yang dibilang menyalahi kodrat sebagai perempuan lah, bahkan kadang sampai bawa2 ayat kitab suci. Gue ga nyalahin mereka sih karena ya emang ada benernya juga tapi kan ga bener juga judge orang begitu ya. Kayaknya nyaris ga ada deh working mom yang kerja cuma sekedar buat gengsi doang. Apalagi jaman sekarang ya bo! Jaman yang emang kadang dituntut kalo perempuan bisa punya penghasilan sendiri karena bisa aja suami ninggalin kita sewaktu-waktu, kalo ga diambil Tuhan ya diambil orang secara Indonesia kayaknya udah darurat pelakor ya. Whoops! Nauzubillah min zalik ya. Semoga kita dilindungi dari orang-orang seperti itu ya.

Tapi beneran ada temen gue yang setelah nikah disuruh resign sama suaminya tadinya dia kerja di salah satu kantor pemerintah juga, eh ternyata pernikahannya ga harmonis karena suaminya KDRT, akhirnya buat ngelindungin anak-anaknya (anaknya udah 2 cuma beda setahun umurnya dan masih toddler pas dia bercerai) dia milih buat bercerai. Setelah cerai pun suaminya ga pernah menafkahi anak-anaknya. Kayak ngilang gitu aja. Otomatis mau ga mau dia yang pada akhirnya jadi tulang punggung keluarga buat menghidupi anak-anaknya. Kerja lagi, demi anak-anaknya karena dia ga mau dia ngeberatin orangtuanya, ga mau anak-anaknya ga bisa makan, dan ga bisa sekolah nantinya.

Akhir cerita gue cuma mau bilang untuk seluruh ibu, mama, mami, emak, indung, mimi, atau apapun sebutannya, entah apakah kalian working mom atau full-time mom, apakah mengasuh dengan ART atau tidak, apakah single fighter atau tidak, entah melahirkan secara caesar atau normal, apakah pernah mengalami baby blues atau tidak, apakah full ASI atau sufor, pada dasarnya peran sebagai IBU adalah istimewa. Dan akan tetap istimewa apapun pilihan kita dalam menjalani peran sebagai IBU. So, come on stop perang pendapat tentang apakah lebih baik menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier, dan segala perdebatan lainnya. Jadilah versi terbaik diri kita sebagai IBU untuk anak-anak kita. Ketika kita bisa menjadi versi terbaik kita sebagai IBU, gue yakin kita akan bisa menjadikan anak-anak kita versi terbaik dari dirinya tanpa perlu membandingkan dengan yang lain.

Jumat, 09 Agustus 2019

Perjuangan Seru Jadi Mama Perah (How To Manage Breastmilk In Emergency Situation)

Terinspirasi dengan banyaknya keluhan teman-teman (terutama yang saat ini masih berstatus sebagai mama perah) akibat kejadian pemadaman listrik se-Jabodetabek 2 hari belakangan, jadi membangkitkan memori gue masa-masa jadi mama perah dulu. Fyi, Alhamdulillah wasyukurillah gue berhasil menyelesaikan program ASI eksklusif untuk Elle selama 2 tahun, bahkan sampai sekarang Elle di umur 2 tahun 7 bulan ini masih nenen (masih berusaha weaning with love. Guenya yang masih melow dan belum ikhlas kehilangan moment menyusui sih sebenernya. Balik lagi ke topik, selama 2 tahun jadi mama perah, bohong banget kalo ga pernah ngalamin drama dalam dunia per-pumping-an. Tapi disini gue akan lebih spesifik cerita soal bagaimana perjuangan sebagai mama perah yang gue lakukan terutama dalam peran ganda gue sebagai working mom, karena banyak banget cerita seru yang gue alami dan kayaknya bisa membantu para mommies yang kali aja mengalami hal yang sama dan butuh tips n trick untuk manage ASIP di situasi darurat.

Sebagai mama perah pasti ngerasain banget dong moms, betapa berharganya setetes ASIP apalagi buat para working mom nih kalo pas terpaksa banget pas kerja tapi tetap harus bisa pumping dengan fasilitas yang belum tentu mendukung, duh rasanya pasti senewen banget. Tapi berhubung pumping must go on buat memenuhi hak si bayi jadi pasti semua mommies bakalan ngelakukan apapun buat tetep bisa bawa pulang liquid gold itu buat si bayi kesayangan di rumah. Gue yakin banyak working moms yang pernah pumping di toilet atau di mesjid/mushola umpet-umpetan pake mukena kalo pas rapat diluar kantor tapi ga ketemu nursery room. Hayo iya apa iya? Karena gue juga ngalamin kok. Malah ada temen kantor gue cerita dia pernah pumping di dalem bioskop pas nonton, pake metode marmet (pumping pake tangan), sakti ga tuh? Hihihihi. Selain proses dan tempat pumping, kejadian pas penyimpanan ASIP juga banyak dramanya, misal: setelah pumping pas mau masukin ke botol/kantong ASIP malah tumpah saking buru-burunya, atau yang pada pake motor/kereta, ASIP-nya tumpah karena kejempet-jempet atau gujlak2 pas di perjalanan. Hayo pasti banyak juga kan yang ngalamin hal kayak gitu? Kejadian begitu ya paling cuma bisa pasrah aja sih, walau dalem hati pasti nangis bombay sebenernya.

Gue pernah ngalamin kejadian yang lebih parah yang memang itu diluar kuasa gue tapi berhubung gue memegang teguh prinsip "keras kepala lah dalam memberikan ASI Eksklusif", jadi ketika gue mengalami hal-hal darurat yang mengancam keselamatan kualitas ASIP gue, naluri keras kepalanya keluar untuk cari cara buat nyelametin ASIP yang sudah susah payah dikumpulkan. Kalo cuma pemadaman listrik doang mah udah pernah banget gue ngalamin, ngakalinnya ya paling jangan buka2 pintu kulkas dulu selama mati lampu plus jaga2 dari awal gue kebiasaan taruh ice pack/ice gel di beberapa bagian pintu kulkas atau di depan tiap barisan masing-masing rak jadi seandainya beneran mati lampu, suhu di kulkas tetap aman dengan adanya bantuan ice gel/ice pack itu. Pernah ngalamin mati lampu 12 jam dan alhamdulillah ga ada stok ASIP yang bener2 cair semua, masih tetap beku karena yang cair ice gel/ice pack-nya duluan (itupun ga sepenuhnya mencair, cuma dikit doang). Ya walaupun terbukti efektif pake cara itu tapi akhirnya si pacar karena males dengerin gue nanya mulu kalo pas mati lampu (duh, ASIP-nya cair ga ya sayang? Nih kapan nyalanya sih? Tadi kamu ga buka2 kulkas ASI-nya kan?) akhirnya dia inisiatif beliin accu khusus (semacam genset gitu) buat cadangan power supply untuk kulkas ASI gue buat jaga2 kalo mati lampu. Jadi mati lampu Alhamdulillah ga pernah jadi masalah selama ini.

Sebagai working mom sebenernya gue paling sebel kalo udah disuruh melakukan perjalanan dinas. Alasan utama karena rempong bawaannya, udah jadi rahasia umum ya kalo printilan breastpump itu buanyaaak, yang biasanya dinas bawa 1 ransel aja cukup (yup gue bukan tipe bawa2 koper kalo dinas), begitu jadi mama perah jadi nambah tentengan tas ASIP. Kalo bisa nolak biasanya gue tolak sih, tapi kalo terpaksa harus berangkat biasanya gue paling bawel soal fasilitas hotel. Kulkas/cooler di kamar itu wajib ada buat naro ASIP selama perjalanan dinas. Ketel pemanas air juga wajib ada buat sterilin breastpump. Pokoknya di make sure kalo semua fasilitas yang gue butuhkan tersedia. Alhamdulillah rekan kerja, baik atasan ataupun temen2 unit kerja gue ngerti sikonnya gue sebagai mama perah, kadang mereka berbaik hati sampe tukeran kamar sama gue biar gue terfasilitasi kegiatan memerahnya. Biasanya sih atasan gue yang berkorban tukeran kamar sama gue, jadi gue pake kamar atasan gue yang fasilitasnya lengkap, sedangkan beliau pake kamar gue. Hihihihi.

Tapi walau kadang gue udah antisipasi sebelumnya, kadang masih apes juga pas dinas tau2 kamar hotelnya ga ada kulkasnya. Jadi pernah nih pas telpon buat booking hotel tanya ada kulkas atau engga dijawab ada, begitu sampai lokasi ternyata ga ada karena lagi pergantian model kulkas ke model yang lebih baru, dan sedang dalam tahap pengadaan sementara kulkas yang lama sudah ditarik semua dari kamar. Atau kalo ke daerah yang agak terpencil biasanya agak susah tuh cari kamar hotel yang ada fasilitas kulkasnya. Kalo gitu masih bisa gue akalin sih dengan nitip semua ASIP plus icegel-nya di kulkas dapur hotel, tapi ya rempong banget jadinya, misal gue pumping sehari 3x ya gue harus turun ke lobi 3x pula untuk nitipin ASIP-nya, belum lagi kadang petugas hotelnya salah naro ASIP, harusnya taro di bagian cooler aja tapi malah dibekuin di freezer. Hiks.

Pernah waktu dinas ke wakatobi, itu sudah ga ada kulkas/cooler di kamar hotelnya, jarak lobi ke kamar itu sekitar 300 meter (tipe cottage sepanjang pinggir laut gitu) dan jalannya kecil harus ngelewatin kayak hutan gitu dan gelap banget ga ada lampu, jadi ga memungkinkan banget kalo tiap pumping gue harus anter ASIP ke lobi, takutlah bo! Trus gimana cara ngakalinnya? Es batu. Sepanjang hari gue minta bantuan orang-orang sekitar buat cari es batu, Alhamdulillahnya pada ngerti juga jadi selalu sigap membantu. Jadi dari hari pertama-kedua masih rempong tiap berapa jam minta cariin es batu, sampe akhirnya di hari berikutnya udah langsung disodorin sama mereka sebelum gue bawel minta cariin es batu lagi. Buat sesi pumping malam di hotel, sebelum balik ke hotel pas makan malam, gue minta es batu yang lumayan banyak biar bisa tahan semaleman ditaro di cooler bag, walaupun pasti paginya bakal mencair semua tapi minimal suhunya masih dingin.

Yang lebih parah, waktu gue dinas ke Bali dan ternyata gunung agung sedang erupsi yang menyebabkan ditutupnya bandara. Itu gue harus kembali ke Jakarta bawa ASIP dari Bali perjuangan banget karena perjalanan harus ditempuh via jalur darat-laut-udara. Dari wilayah hotel di sekitaran Kuta harus naik bus beberapa jam ke pelabuhan, setelah itu dari pelabuhan nyeberang ke Banyuwangi pakai kapal, dilanjut naik bus lagi dari Banyuwangi ke Surabaya, dan di Surabaya baru naik pesawat ke Jakarta, berhubung rumah gue di depok, perjalanan dari bandara ke rumah juga lumayan menghabiskan waktu beberapa jam. Keluar dari hotel itu jam 11.00 (Jum'at), dan jadwal pesawat dari Surabaya itu jam 14.00 hari berikutnya (Sabtu). Total belum sampai rumah aja, sudah lebih dari 24 jam perjalanan. Gue cuma kepikiran nasib ASIP gue bakal dibawa dalam perjalanan selama itu, tahan atau ga? Sempet gambling apa dibuang aja daripada udah capek2 bawa ternyata ASIP-nya rusak kan. Tapi ya itu tadi, keras kepalanya langsung muncul lagi, masa udah ngumpulin berkantung-kantung ASIP (kalo ga salah 7/8 kantong @100ml waktu itu) trus cuma gara2 perjalanan panjang ASIP-nya harus dibuang. Yang bisa dilakukan adalah puter otak lagi buat cari cara biar kualitas ASIP-nya tetap terjaga selama perjalanan. Bismillah aja lah intinya.

Dari hotel gue cuma berbekal ASIP cair dingin kulkas plus 2 ice gel ukuran standar yang full beku. Perjalanan dari keluar hotel jam 11 siang hingga sampai di pelabuhan Bali itu kurang lebih 12 jam (lama di nunggu jadwal pemberangkatan bus), pokoknya kami nyeberang itu pas tengah malam, gue liat ice gel gue sudah cair 70%- nya. Akhirnya di kapal, gue nitip ASIP gue di cooler pantry selama penyeberangan plus beli es batu buat persiapan perjalanan selanjutnya. Selanjutnya es batu gue refill lagi pas rehat perjalanan bus dari Banyuwangi menuju Surabaya. Sampai di Surabaya itu jam 06.00 di hari Sabtu dan ice gel sudah cair semua, plus es batunya cair 75%-nya. Sebelum masuk bandara gue sempat minta es batu lagi untuk ganti semua es batu yang cair itu ke salah satu warung di depan terminal keberangkatan bandara, Alhamdulillah dikasih banyak banget. Pas udah masuk bandara, rombongan gue langsung cari tempat makan sekalian buat tempat nunggu selama nunggu jadwal penerbangan yang masih jam 14.00, gue titip lagi ASIP-nya di cooler kulkas resto dan ice gel-nya untuk dibekukan kembali di freezer sementara gue pumping di nursery room (berbekas es batu yang tadi diminta di warung depan terminal bandara) untuk mengosongkan PD yang hampir 24 jam ga diperah (alhamdulillah selama nunggu pesawat sempet 2x pumping dapat 4 kantong 100ml). Pas masuk gate alhamdulillah ice gel gue sudah beku sempurna lagi dan ASIP-nya sudah sangat dingin suhunya, sisa es batu walau banyak yang belum cair tapi gue buang aja karena takut malah jadi bocor/rembes begitu tas ASI ditaro di cabin pesawat. Sampai rumah juga alhamdulillah ASIP masih aman dan dalam kondisi dingin dengan ice gel belum cair, begitu sampai rumah langsung masuk freezer untuk dibekukan.

Tips n Trick Manajemen ASIP untuk working mom di saat darurat ala Acha:

  1. Pisahkan stok ASIP harian dengan stok ASIP keseluruhan, untuk meminimalisir perubahan suhu akibat kulkas ASI stok keseluruhan terlalu sering dibuka tutup (apalagi pas mati lampu)
  2. Sebaiknya sedia genset/accu untuk kulkas ASIP buat jaga2 kalo mati lampu dalam jangka waktu lama. 
  3. Selalu bawa extra icegel/icepack (3-4 buah) untuk cooler bag, untuk bagian kanan-kiri, dan atas bawah cooler bag.
  4. Selalu bawa koran untuk bungkus ASIP buat jaga suhu di dalam cooler bag.
  5. Selalu bawa plastik zipper/plastik kiloan + lakban untuk jaga ASIP tetap steril kalo harus nitip ASIP di kulkas hotel yang pasti isinya macem2.
  6. Lebih prefer kantong ASIP dibanding botol untuk perjalanan dinas (lebih ringan)
  7. Kalo mau pakai botol, usahakan yang tutupnya ulir biar ga gampang tumpah.
  8. Jangan pernah malu/takut untuk minta es batu kalo ga nemu cooler/kulkas (kalo ga dikasih ya beli aja, paling berapa ribu udah dapet banyak).
  9. Jangan pernah malu/takut untuk nitip ASIP di minimarket/warung yang punya cooler/kulkas pas di perjalanan (tapi jangan sampe lupa diambil lagi ya).
  10. Kalo pas dinas, pertimbangkan waktu tempuh perjalanan dan lama perjalanan dinasnya, kalo kira2 waktu tempuh perjalanan lebih dari 12 jam atau lama perjalanan lebih dari 6 hari sebaiknya ASIP selama perjalanan dinas dibekukan saja dan pas dibawa dibungkus koran pas ditaruh di cooler bag untuk jaga suhu.
Kurang lebih beginilah pengalaman yang bisa di share seputar cara manajemen ASIP di saat darurat. Mohon maaf ya mommies kalo tulisannya tidak tertata dengan baik, udah lama banget ga nulis di blog jadinya agak gimana gitu pas mulai nulis lagi. Hehehe. Yang penting maksudnya semoga bisa tersampaikan aja sih. Please feel free to ask me anything about it.