Senin, 22 Desember 2014

Resolusi Tahun 2015

Jarang2 gue bikin resolusi tahun baru, karena gue biasanya adalah orang yang menjalani hidup dengan prinsip Let It Flow. Entah apa yang sedang merasuki gue, tapi ada beberapa hal yang memang sangat gue inginkan untuk tahun depan dan ga ada salahnya kalo gue share disini.


1. Gue berharap tahun depan bisa ada di kantor baru dengan pekerjaan baru sebagai CPNS.

2. Bisa umroh bareng nyokap dan adek.

3. Pengen dapet beasiswa S2.

4. Bisa mulai nabung buat beli rumah.

5. Pengen mengembangkan usaha di dunia nyata.

6. Liburan yang agak jauh sama temen2 selama beberapa hari, ke Jogja, Bali atau Bromo.

7. Punya hubungan yang lebih serius, entah dengan siapapun itu.

8. Pengen kurus. Hahaha.


So far sih baru 8 point itu aja yang ada di otak gue. Beberapa point kayaknya cuma punya kemungkinan yang kecil untuk bisa jadi kenyataan di tahun depan, tapi ya ga papa lah ya, itung2 nambah wishlist untuk tahun 2016.

Mari bekerja keras di akhir tahun ini untuk mewujudkan satu demi satu harapan gue itu sambil berharap akan ada keajaiban yang bisa ikut mewujudkannya. Bantu aku mewujudkan semuanya Ya Allah. Aamiin.

Buat yang sedang mampir dan baca posting ini mungkin bisa bantu meng-Aamiin-kan :)

Senin, 06 Oktober 2014

Gara2 Permen

Gue baru aja ngalamin kejadian ga enak beberapa hari lalu gara2 sebuah permen yang dibelakang bungkusnya ada kata2nya itu. Tau kan permen yang di iklannya bilang bisa untuk menyampaikan kata2 yang tidak tersampaikan ke orang yang kita suka. Ya mungkin di iklannya ilustrasinya dibikin tepat sasaran, tapi pada kenyataan yang gue alamin justru malah bikin malu setengah mati.

Jadi gini ceritanya, beberapa hari lalu gue ga sengaja ketemu sama seorang mantan di suatu tempat. Karena saat itu gue sendirian akhirnya kita ngobrol dong. Pas ngobrol itu gue makan permen dan sebagai bentuk sopan santun gue nawarin si mantan gue ini mau permen juga apa nggak. Ternyata dia mau, dan akhirnya gue kasih lah dia sebungkus permen yang sama kayak yang gue makan. Gue sih tetep lempeng aja gitu setelah ngasih permen itu ke dia, tapi anehnya si mantan gue ini tiba2 malah jadi cengengesan ga jelas.

Terjadilah percakapan dibawah ini :

Gue : "Kenapa lo cengar/i gitu?"
Mantan : "Ini seriusan permennya?"
Gue : "Lah tadi lo bilang mau permen juga. Sini balikin kalo ga mau."

Gue berusaha mengambil permen itu dari mantan gue tapi dia ngelak. Kemudian diam sejenak.

Mantan : "Bisa aja lo."
Gue : "Bisa apaan sih?"
Mantan : "Ini." (sambil nunjukin bungkus permen)
Gue : (cuma bisa melongo sambil nahan malu)

Lo tau ga kata2 apa yang ada di belakang bungkus permen yang gue kasih ke mantan gue itu. Kata2nya adalah "Cayank kamyuuu", dengan tulisan super alay berwarna pink. Malu banget ga sih? Coba bayangkan betapa malunya gue saat itu? Gue cuma bisa bilang kalo itu ga sengaja dan dia liat sendiri kalo gue juga ngambilnya ngasal dari dalem tas gue jadi gue ga mungkin sengaja milih permen dengan tulisan kayak gitu buat dikasihin ke dia.

(Dari segini banyaknya permen, kenapa musti yang cayank kamyuuu??)

Pelajaran pentingnya adalah, pisahin permen yang ada kata2nya dengan permen2 lain yang normal, jadi kalo suatu saat lo harus berbagi permen dengan orang yang ga disangka2, lo ga bakal ngalamin kejadian memalukan kayak yang gue alamin kemarin ini.

Senin, 29 September 2014

Janda

Minggu lalu, tepatnya hari Jum'at sepulang kerja saat gue sedang makan malam sama nyokap, nyokap cerita soal kejadian ga ngenakin yang terjadi di kantornya yang bermula dari candaan seorang teman kantornya yang menyinggung status nyokap yang sekarang Janda. Entah dari pembicaraan apa awalnya, tiba2 saat akan meninggalkan ruangan nyokap, rekan kerjanya ini mengeluarkan celetukan, bernada tidak sopan.

"Ayo cepetan pergi yuk!! Jangan lama2 disini, males aku sama si Janda itu!!"

Si rekan kerjanya ini bicara seperti itu sambil cengar/i dan sambil menunjuk2 ke arah nyokap. Menurut pengakuan nyokap, ini bukan yang pertama kalinya dia bicara seperti itu. Awalnya nyokap masih bisa sabar karena memang menganggap itu sebagai sebuah candaan, tapi setelah beberapa kali terulang, nyokap jadi merasa kata2 itu cenderung sudah menghinanya.

Saat itu nyokap langsung menegur rekan kerjanya ini dengan bilang kalau becanda jangan keterlaluan, apalagi pakai bawa2 status seseorang. Orang yang ditegur malah menjawab dengan santai masih dengan cengar/i kalau apa yang dikatakannya tidak salah karena nyokap memang janda. Nyokap kemudian bilang "Ya memang saya Janda, Pak. Tapi saya jadi Janda juga bukan karena mau saya, tapi maunya Allah. Saya Janda juga tidak pernah merugikan orang lain, kenapa Bapak menghina saya terus??" Setelah itu nyokap cuma bisa nangis dan akhirnya istirahat di mushola kantornya karena tidak ingin ditanya apa alasan dia menangis.

Gue yang denger cerita nyokap saat itu cuma bisa gemes. Seandainya gue dikasih kesempatan untuk ketemu sama orang yang menghina nyokap, gue pasti akan melakukan hal yang sama. Gue akan menegur orang itu dan menanyakan apa alasannya dia bisa bicara seperti itu. Kalau memang konteksnya hanya becanda, sangat tidak pantas kata2 seperti itu keluarkan oleh orang yang berpendidikan.

Ya mungkin status Janda di masyarakat kita sering jadi momok yang dianggap sebagai wanita murahan penggoda suami orang, sehingga dengan gampangnya banyak orang becanda soal status Janda orang lain tanpa memikirkan perasaan orang yang bersangkutan. Contoh nyatanya banyak, bahkan ada sebuah stasiun TV swasta yang selalu menayangkan acara musik yang para presenternya selalu becanda dengan menggunakan status Janda artis lain, bahkan setelah artis yang dihina tersebut menegur secara langsung dan acara tersebut juga ditegur berkali2 oleh KPI karena alasan yang sama, mereka juga tetap melakukan hal seperti itu lagi.

Buat gue sih status seseorang bukan buat bahan becandaan, coba deh kalo lo yang ngalamin sendiri apa ga sakit hati?? Dalam kasus nyokap, selain merasa terhina, candaan tersebut juga akan membangkitkan luka lama dan memori nyokap saat bokap meninggal dunia. Dampak psikologis di belakang candaan itu bisa jadi sangat besar. Lagian apa untungnya juga untuk orang lain yang mengeluarkan candaan itu?? Kalo biar dianggap lucu, NO!!! That's not funny at all. Orang2 yang becandanya kayak gitu malah jadi keliatan (maaf) tolol dan sama sekali ga berpendidikan.

Gue ngetik tulisan ini masih dengan perasaan sakit hati ke orang yang menghina nyokap. Suatu saat kalo gue ketemu sama orang itu, gue akan pastikan dia akan minta maaf ke nyokap dan berjanji ga bakal ngulangin perbuatannya lagi. Gue ga peduli dia lebih tua dari gue atau dia atasannya nyokap sekalipun, kalo becandaannya sudah ga pantas seperti itu ya memang harus ditegur. Apa salahnya jadi Janda?? Toh nyokap Janda yang ditinggal meninggal dunia suaminya, bukan orang yang jadi Janda karena diceraikan suaminya gara2 ketauan selingkuh atau berzina dengan orang lain.

Sekali lagi gue sih cuma mau bilang aja, ati2 sama semua yang lo omongin. Mulutmu harimau-mu. Jangan sampai perkataan yang keluar dari mulut lo jadi dosa buat diri lo sendiri karena sudah menyakiti hati orang lain. Dari perkataan lo juga keliatan seberapa kualitas diri lo. Kalo mau dianggap pintar, berpikirlah dulu sebelum berucap. Jangan sampai asal jeplak tapi dibelakangnya menyisakan penyesalan dan masalah.

Sabtu, 30 Agustus 2014

1st Time Ikut Selfie Contest

Posting kali ini akan agak (banyak sih) melenceng dari posting2 gue sebelumnya di blog ini. Kalo selama ini gue cuma nulis soal curhatan pribadi atau hal2 absurd lainnya, kali ini gue pengen bikin posting soal selfie. Yup, selfie. Gue mau ikutan lomba selfie yang diadain sama Mbak Arum si beauty blogger terkenal itu yang blog-nya sering gue stalking-in. Oke, i'm not a beauty blogger, tapi gue suka selfie. Jadi ga ada salahnya coba ambil bagian di Racun Selfie Contest ini kan??


Gue sengaja milih foto2 selfie di posting ini dengan tema black and white. Selain suka sama warna hitam dan putih, gue juga ngerasa black and white photography itu bikin foto terlihat lebih hidup. Mata gue yang kata orang2 udah tajam juga bisa jadi semakin tajam, jadi bisa tu buat pose dengan ekspresi smize ala2 model majalah gitu. Selain itu, efek foto hitam putih itu bisa nyamarin hasil make up gue yang masih sangat amatir, jadi ga keliatan tu kalo ada bedak2 menggumpal di bagian2 tertentu. Hihihihi.

Beberapa foto dibawah ini ada yang diambil dari kamera hape (Lumia 620), dan ada yang pake DSLR + tripod juga. Harap buat yang ga kuat liat foto2nya bisa segera klik tanda X di pojok kanan atas halaman browsernya ya. Efek samping seperti kepala pusing, perut mual dan muntah ga ditanggung ya. :p








Biar ga bosen liat foto2 gue doang, gue tambahin deh foto sama pacar. Ya walau namanya udah ga selfie lagi karena fotonya berdua tapi yaudahlah ya gapapa yang penting temanya masih hitam putih. *maksa*




Yup sekian foto2 selfie gue. Kalo mau liat lebih banyak foto selfie gue bisa follow instagram gue aja. Hahaha. Sekalian promo.

Posting ini dibuat untuk mengikuti Racun Warna-Warni Selfie Contest yang disupport oleh Miss Lie Collection dan Cathy Doll Indonesia. Semoga menang... :)


Jumat, 15 Agustus 2014

Lihat Dari Sudut Pandang Berbeda

Siang tadi seorang teman memposting sebuah link yang berisi tentang pentingnya berkendara secara aman bagi muslimah. Dia memposting itu karena dia melihat sendiri bagaimana seorang ibu yang berhijab dan bercadar mengendarai sepeda motor tanpa mengenakan jaket ataupun helm. Gue ngerti maksudnya temen gue itu adalah menyampaikan bahwa sepanjang apapun pakaian atau serapat apapun jilbab yang dipakai, tetap wajib yang namanya memakai jaket dan helm saat naik motor demi keselamatan.

Dari situ gue teringat pengalaman yang pernah gue alami dan lihat sendiri, kebetulan kejadiannya hampir sama. Gue sering melihat banyak jamaah suatu pengajian (ga usah disebut lah ya biar damai dan ga ada yang salah paham lagi) yang naik motor iring2an saat akan menghadiri tablig akbar pengajiannya. Saat iring2an, sering terlihat jika 1 motor dikendarai 3 orang sekaligus, tanpa memakai jaket dan helm (biasanya pakai baju koko & sarung). Tidak hanya itu saja, iring2an tersebut kadang menyebabkan kemacetan karena beberapa dari mereka mengibar2kan bendera pengajiannya dan mengklakson2 dan menyalip kendaraan lainnya untuk minta diberi jalan sekalipun jalanan memang sedang macet dan kendaraan lain juga tidak bisa bergerak.

Pernah suatu ketika mobil gue tiba2 di blok oleh salah 1 jamaah yang kemudian menaruh motornya di tengah jalan untuk memberi jalan kepada jamaah lainnya dan saat mobil di belakang gue yang tampak sedang terburu2 ingin menyalip, salah seorang jamaah lainnya yang masih berusaha menghalangi mobil itu malah memukul kap mobil itu dengan kasar. Untungnya saat itu tidak sampai terjadi keributan walaupun sempat terjadi ketegangan antara si jamaah dan pengendara mobil itu.

Gue menuliskan komen di posting temen gue itu berdasarkan apa yang memang pernah gue lihat dan alami sendiri. Yang ingin gue menyampaikan adalah kalo tindakan semacam itu tidak hanya membahayakan keselamatan mereka sendiri tapi juga berpotensi untuk membahayakan pengendara lainnya juga. Seterburu2 apapun kita untuk menghadiri suatu acara, tetap wajib menggunakan alat keselamatan dan mematuhi tata tertib berlalu lintas. Teman gue si empunya posting menangkap apa maksud dari komen gue, tapi tidak dengan komenter lainnya.

Gue yang siang tadi sedang berada di commuter line menuju kota dikejutkan dengan komen lainnya yang sepertinya tersinggung dengan komen gue dan postingan teman gue itu. Dia menganggap kalo komen gue dan posting itu terkesan menyudutkan orang2 berhijab dan berbaju koko-sarungan. Dia menegur dan bilang kalo banyak anak muda lainnya yang juga sering naik motor hanya pakai celana pendek, tanpa mengenakan helm, dan berboncengan juga. Ya gue juga setuju pendapat dia karena emang udah jadi rahasia umum kali ya kalo itu. Tapi balik lagi ke awal, bukan maksudnya gue dan temen gue itu ingin menyudutkan suatu kelompok tertentu, tapi memang sekedar berbagi pengalaman dan cerita supaya bisa jadi pelajaran buat semua yang baca gimana pentingnya berkendara dengan baik, yang hanya saja kebetulan contohnya adalah jamaah suatu pengajian, dan lagi kebetulan karena link yang diposting juga tentang muslimah.

Gue ga ngebahas soal anak2 alay yang suka boncengan bertiga2 pake tanktop-celana pendek-rambut dipirangin karena buat gue mereka kebanyakan adalah anak muda yang nalarnya belum sampai soal keselamatan berkendara, bukan berarti lantas gue memaklumi kelakuan mereka itu ya. Sedangkan kalo jamaah suatu pengajian itu tingkatnya udah jauh lebih intelek dibanding anak2 alay, apalagi mereka pemahaman agamanya juga lebih bagus dibanding orang2 lainnya, jadi sangat disayangkan kalo sampai mereka membahayakan keselamatan diri sendiri ataupun orang lain saat berkendara. Dan terlebih lagi yang gue alami langsung ya memang berhubungan dengan jamaah suatu pengajian, jadi ya gue ga kasih contoh anak2 alay itu karena emang belum (jangan sampe) pernah berurusan sama mereka.

Yang gue ingin tekankan disini tu coba deh liatnya dari sudut pandang yang beda. Gue bisa ngerti kalo liat dari sudut pandang dia sebagai seorang yang berhijab juga merasa tersinggung saat membaca komen gue di posting itu yang terkesan menyamaratakan semua jamaah. Ya mungkin sama kayak misal ada seorang hijaber yang menulis atau berkomentar soal seorang perempuan yang tidak berhijab dan lantas dicap sebagai yang cacat moral kemudian menyamaratakan semua orang yang tidak berhijab seperti itu. Gue juga mungkin sebagai seorang yang belum berhijab tapi ga pernah melakukan sesuatu yang bersifat merusak moral akan panas kalo disamaratakan seperti itu. Tapi coba dicerna baik2 dulu deh kasusnya seperti apa sebelum berkomentar, gue dari awal bilang kalo gue terganggunya sama jamaah suatu pengajian tertentu dan itu pernah gue alami sendiri, dengan kata lain hanya tertuju pada oknum, bukan keseluruhan.

Coba deh liat dari sudut pandang gue sebagai pengendara mobil yang tiba2 di blok jalannya (jalan kita di salip dan kemudian motornya berhenti mendadak di depan mobil kita) atau si pengendara mobil yang kap mobilnya dipukul tadi. Mau kita berhijab atau tidak bukankah itu akan jadi suatu perbuatan yang mengganggu dan mebahayakan kalo terjadi sama kita?? Sama kayak mau kita anak alay atau jamaah pengajian, kalo ga pake helm pas naik motor kemudian jatuh ya kepalanya pasti kebentur aspal dan itu sangat bahaya banget kan?? Sekali lagi gue tekankan bahwa gue benar2 tidak bermaksud untuk menyudutkan atau menghina orang2 yang berhijab atau bersarung ya. Coba tolong pahami dari sudut pandang gue.

Secara dunia maya itu kita cuma komunikasi lewat kata atau gambar, masing2 orang bisa melihat dan memahami gambat atau suatu kalimat dengan berbagai macam ekspresi. 1 kalimat yang sama kalo dibaca dengan nada biasa atau dengan nada sinis atau marah juga hasilnya sudah pasti akan jadi berbeda situasinya. Kita sendiri yang menginterprestasikan tulisan orang lain yang kita baca sesuai suasana hati kita. Jadi biar ga salah paham dan kemudian malah jadi konflik berkepanjangan, jadi coba deh mulai sekarang kita belajar nilai suatu hal ga cuma dari sudut pandang kita sendiri aja, tapi berusaha untuk memahami sudut pandang orang lain juga. :)