Kamis, 28 Mei 2020

Video Kesalahan Umum Dalam Penyusunan Kamus Kompetensi Teknis



Video ini adalah video kelanjutan dari video tutorial cara penyusunan kamus kompetensi teknis yang telah saya post sebelumnya. Semoga video ini dapat membantu instansi pemerintah yang sedang dalam proses penyusunan kamus kompetensi teknis urusan pemerintahannya agar terhindar dari beberapa kesalahan umum seperti yang sudah saya rangkum dalam video tersebut.

Rabu, 01 April 2020

Tips Bagi Generasi Rebahan : Anti Mati Gaya Ketika Harus Di Rumah Aja

Terhitung sejak awal Tahun 2020, banyak gejolak yang terjadi, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Puncaknya ketika virus corona mulai merebak. Berawal dari Wuhan China, hingga akhirnya sampai ke Indonesia. Data per hari ini saja (31/3) sudah 1000 orang lebih dinyatakan positif Covid-19 sampai2 Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengambil langkah antisipasi dengan menerapkan Social Distancing di masyarakat yang awalnya diterapkan mulai tanggal 16 Maret sampai dengan 31 Maret 2020 kemudian diperpanjang hingga tanggal 21 April 2020, perkantoran juga banyak yang sudah memulai gerakan Work From Home (WFH) bagi para pegawainya demi mentaati himbauan Pemerintah untuk melakukan Social Distancing.

Bagi pekerja kantoran yang melakukan WFH mungkin waktu beberapa minggu dirumah tidak akan terasa karena akan banyak pekerjaan kantor yang bisa dikerjakan dirumah, tapi biasanya bagi para anak muda yang biasanya melakukan aktivitas diluar rumah yang sekarang dipaksa jadi generasi rebahan pasti bakalan bosen banget di rumah aja ga ngapa-ngapain kan. Berikut beberapa hal bermanfaat yang dapat dilakukan selama masa Social Distancing biar ga mati gaya ketika terpaksa harus #Dirumahaja 

1. PERBANYAK IBADAH

Sudah banyak dokter yang menyarankan untuk lebih menjaga kebersihan. Nah untuk yang muslim selain kita sudah pasti bersuci dengan wudhu minimal 5 kali sehari, kesempatan dirumah ini bisa jadi kesempatan besar buat bisa lebih banyak ibadah. Ibadah2 sunnah yang mungkin selama ini jarang dilakukan seperti Solat Dhuha bisa dirutinin tuh. Selain dapat pahala kan jadi bisa lebih sering bersuci juga sehingga bisa meminimalisir kemungkinan terimfeksi Covid-19. Jangan lupa buat sering-sering baca AL-Qur'an juga selama di rumah aja, kamu bisa targetin buat khatamin Qur'an selama masa Social Distancing ini.

2. BEROLAHRAGA

Selain menjaga kebersihan, Olahraga juga disarankan banget buat meningkatkan daya tahan tubuh. Mentang-mentang di rumah aja jangan sampai males gerak ya. Nanti malah jadi ga sehat loh! Kamu bisa olahraga sendiri di rumah. Banyak video di internet yang bisa dijadiin tutorial yang memungkinkan kamu bisa olahraga sendiri di rumah tanpa harus punya alat-alat olahraga yang lengkap. Buat yang suka latihan beban bisa pakai beban tubuh sendiri atau pakai benda-benda disekitarnya.

3. MEMBANGUN PASIF INCOME

Kamu juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan walau dirumah aja loh, misal dari ngeblog atau ngevlog. Selain bisa mengisi waktu luang kamu, kamu juga bisa dapat tambahan penghasilan loh dari hobi baru kamu ini kalo kamu bisa menghasilkan tulisan atau video yang menarik. Selain itu, kamu juga bisa memulai usaha online shop, banyak penjual yang membuka kesempatan dropship bagi kamu yang ingin usaha tapi ga mau ribet ngurusin stok barang.

4. MENGERJAKAN HOBI

Masa dirumah aja ini pasti bakalan jadi masa yang menyenangkan buat orang-orang yang punya hobi. Karena dimasa ini kamu punya banyak waktu buat ngerjain hobi kamu. Misal kamu suka melukis, pasti akan banyak lukisan yang akan kamu hasilkan saat ini. Buat yang belum punya hobi yang spesifik kamu juga bisa mulai eksplore kira-kira apa hal yang menurut kamu menarik yang bisa dijadikan sebagai hobi kan.

5. MENIKMATI WAKTU DENGAN KELUARGA

Sebelum dilakukan Social Distancing pasti banyak yang ga punya banyak waktu untuk quality time sama keluarga karena kesibukan masing-masing. Nah moment harus dirumah aja ini bisa jadi kesempatan buat kamu untuk bisa lebih dekat dengan keluarga. Buat yang sudah menikah mungkin bisa ngobrol lebih intim dengan pasangan, yang sudah punya anak bisa main lebih sering dengan anak. Yang penting gadgetnya disingkirin dulu ya, jangan sampai udah moment-nya ada tapi pas ngumpul malah sibuk sama gadget masing-masing.

6. BELAJAR HAL BARU

Punya banyak waktu luang pastinya harus bisa digunakan untuk hal yang bermanfaat kan. Di zaman yang udah canggih banget sekarang ini, gampang banget orang mau belajar sesuai secara online. Mau masak resep baru buat ibu2 yang ga bisa masak tinggal buka youtube. Buat yang tertarik untuk belajar bahasa, juga banyak kelas-kelas belajar bahasa secara online mulai dari yang gratis hingga berbayar yang bisa diikuti. Tinggal kamu sesuaikan aja dengan minat dan bakat kamu ya.

Gimana? Menarik kan? Dijamin ga bakalan mati gaya deh selama dirumah aja. Daripada kamu cari cara buat curi-curi kesempatan keluar rumah buat hal yang ga penting-penting banget, mendingan cobain cara diatas aja. Selain bisa mengusir rasa bosan kamu, inget deh dengan kamu stay home seperti anjuran Pemerintah, itu berarti kamu sudah membantu Pemerintah dan para pahlawan medis yang sekarang sedang berjuang melawan Covid-19 untuk memutus mata rantai penyebarannya supaya Indonesia bisa segera bebas dari Virus ini. Inget loh, kamu ngerasa sehat belum tentu kamu ga terinfeksi virusnya, sekalipun daya tahan tubuh kamu bagus, kamu tetap bisa jadi penyebar virus buat sekitar kalo kamu ga waspada. So, mari kaum rebahan kita di rumah aja biar virusnya bisa pergi sebelum Ramadhan datang, jangan sampai ibadah puasanya nanti ditemenin sama Covid-19 juga. Aamiin!! Ayooo pada bilang Aamiin semua...

Rabu, 25 Maret 2020

Tutorial Cara Penyusunan Kamus Kompetensi Teknis Jabatan ASN



Halo Teman-teman ASN, dalam rangka Social Distancing yang akan dilakukan hingga tanggal 21 April 2020, banyak Instansi Pemerintah yang melakukan Work From Home, salah satunya adalah Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Untuk mempermudah para stakeholder terutama yang sedang melakukan proses penyusunan Standar Kompetensi Jabatan ASN, video berikut bisa disimak.

Video berikut adalah video tutorial cara penyusunan kamus kompetensi teknis. Kamus Kompetensi Teknis ini yang nantinya sangat berperan dalam penyusunan Standar Kompetensi Jabatan ASN. Untuk pertanyaan bisa disampaikan melalui kolom komentar ya. Insya Allah akan saya jawab sebisanya. Terima kasih.

Selasa, 28 Januari 2020

Curcol Orangtua Bekerja, Ortu Kerja - Anak Kurang Kasih Sayang?

Gue adalah salah 1 anak di dunia yang lahir dan dibesarkan oleh orangtua yang dua-duanya bekerja. Banyak anggapan yang bilang kalo anak-anak dari kedua orangtua bekerja biasanya hubungannya tidak harmonis dengan orangtuanya karena jarang bertemu dan tidak mendapat sentuhan kasih sayang yang layak seperti anak-anak lain yang ibunya di rumah, buat gue pribadi alhamdulillah gue ga merasakan seperti itu. Alhamdulillah gue ga pernah merasa kekurangan kasih sayang atau waktu sama keluarga gue. Alhamdulillah komunikasi gue dengan orangtua sangat lancar dan akrab, masa kecil gue juga bahagia dan ga pernah ngerasa beda dengan anak-anak lainnya.

Buat gue orangtua gue termasuk yang sukses membesarkan dan mendidik anak-anaknya walaupun mereka berdua sama2 bekerja. Alhamdulillah gue punya orangtua yang bertanggungjawab terhadap anak-anaknya dan berusaha tetap meluangkan waktunya buat anaknya walaupun mereka sibuk dan ga punya banyak waktu sebanyak orangtua lainnya. Prinsip mereka yang gue tahu adalah anak-anak itu amanat paling berharga dari Tuhan untuk mereka dan mereka sendiri juga ga pernah mau kehilangan moment sedikit pun dengan anak-anaknya.

(pic from here)

Dari cerita orang-orang dekat kayak tetangga ataupun orang-orang yang pernah ikut membantu orangtua gue mengasuh gue dan saudara-saudara gue, walau sibuk orangtua gue tetap berusaha menjalankan kewajiban mereka sebagai orangtua, salah satunya memandikan dan memberi makan. Saat gue dan 2 saudara gue lainnya masih bayi, sebelum berangkat bekerja, orangtua gue terutama nyokap selalu mengurus bayinya dulu, mandiin, siapin susu dan makannya, sampai sterilin semua botol-botol susu yang seharian itu akan dipakai. Pokoknya waktu orangtua gue berangkat kerja bayinya sudah bersih, rapih dan kenyang. Dan mereka juga selalu berusaha pulang tepat waktu biar waktu mandi sore anaknya bisa sama mereka, minimal sebelum magrib mereka sudah ada di rumah. Yah singkatnya, pengasuh gue cuma bertugas untuk jagain, kasih makan/susu saat siang sampe sore sampai orangtua gue pulang.

Semua itu berlangsung sampai anak-anaknya besar. Mungkin karena terbiasa dengan rutinitas itu, maka gue dan saudara-saudara gue sudah mandi dan rapih, bahkan sarapan walaupun jam berangkat sekolah gue masih lama dari jam berangkat kantornya orangtua gue. Saat sekolah pun orangtua gue selalu berusaha nemenin anak-anaknya buat ngerjain PR walau gue tau kalo mereka pasti capek banget. Makan malem selalu sama-sama. Ada 1 ritual yang selalu gue lakukan sama bokap tiap sore. Dulu tiap bokap pulang kerja, setelah beliau mandi, gue duduk dipangku di teras rumah dan kita nyanyi-nyanyi sampai magrib. Setelah magrib kita masuk ke rumah dan makan malam. Ada kebiasaan bokap juga sebelum tidur selalu ngedongengin gue, entah dengan cerita anak-anak ataupun cerita karangannya sendiri. Kadang saking capek dan ngantuknya bokap ketiduran pas ngedongeng.

Sekarang ketika gue sudah berkeluarga, gue dihadapkan pada situasi yang sama. Gue dan suami juga sama-sama bekerja. Alhamdulillahnya kami bekerja di kantor yang sama, yang bisa saling tahu jadwal dan kesibukan satu sama lain. Kami pakai pengasuh yang pulang pergi (PP), datang sebelum kami berangkat dan baru pulang setelah salah satu dari kami sampai kerumah dan hanya masuk di hari kerja saja. Weekend dan hari libur nasional pengasuh kami liburkan. Alasan kenapa kami pakai pengasuh yang PP dan bukan yang menginap salah satunya adalah kami ga mau anak kami tergantung dengan kehadiran pengasuhnya. Kami ingin anak kami tetap dekat dengan kedua orangtuanya walaupun kami berdua adalah orangtua bekerja. Alhamdulillah sih usahanya kami ini berhasil. Elle (anak kami) selalu menunggu kami pulang untuk melakukan aktivitas bersama. Dengan cara ini kami juga dipaksa untuk mengalah dengan ego kami.

(Elle dan Papapnya)

Sepulang kerja selelah apapun kami tetap harus menemani Elle bermain, membaca buku sama-sama, makan malam bersama, belajar dan eksplorasi banyak hal sama-sama. Oia, Elle bukan anak yang kami biasakan dengan gadget, bahkan Elle tidak terbiasa menonton TV. Ada TV dirumah tapi fungsinya untuk menonton film2 download-an (ga ada saluran/chanel TV karena ga ada antenanya). Terkadang kami sengaja cuti bersamaan untuk ajak Elle jalan-jalan bertiga tanpa kehadiran nanny-nya. Elle di umurnya yang ketiga tahun ini sudah terbiasa dan mengerti jika situasinya seperti itu. Weekday selama jam kerja Elle sama nanny selebihnya sama orangtuanya. Dan misal ketika gue sakit dan ga masuk kerja, gue stay dirumah untuk istirahat, pengasuh tetap gue suruh masuk untuk bantu jagain Elle dan pas kejadian kayak gitu Elle tetap aja milihnya lebih ke gue dibanding sama nanny-nya walaupun dia tau gue lagi sakit.

Dengan pengalaman yang gue alami sendiri baik sebagai anak dari orangtua yang keduanya bekerja maupun sebagai orangtua yang bekerja. Gue sih ga setuju kalo banyak yang bilang anak-anak dengan kedua orangtua yang bekerja itu kurang kasih sayang, pembangkang, dan segala macam image negatif lainnya. Mungkin ada yang seperti itu, tapi ya ga fair juga kalo sampai disama ratakan. Balik lagi sih ke komitmen masing-masing orangtua bekerja ya. Jangan sampai pekerjaannya mengambil seluruh perhatian dan kebutuhan kasih sayang si anak. Setuju kan?

Jumat, 15 November 2019

Working Mom VS Full Time Mom

Kayaknya kalo ngomongin topik ini tuh ga akan ada habisnya ya, udah dari zaman dahulu kala selalu aja jadi bahan perdebatan. siapa yang lebih hebat? siapa yang lebih layak sebagai ibu? siapa yang lebih keren? dan hal-hal semacam itu lah pokoknya.

Karena tidak semua perempuan beruntung punya orangtua atau suami yang kaya raya yang bisa mencukupi segala macam kebutuhannya tanpa mengharuskan mereka untuk bekerja di luar rumah. Keputusan untuk jadi wanita karier itu nyatanya yang membuat kami bisa bertahan hidup, bukan cuma untuk memenuhi egoisme pribadinya, prestige, eksistensi atau kedudukan, tapi kebutuhan untuk bisa bertahan hidup walau sekedar dalam batas layak dan bukan yang berkelimpahan.

working mom vs fulltime mom
gambar pinjem dari sini

Banyak yang selalu membandingkan anak hasil asuhan ibu rumah tangga dengan ibu pekerja, banyak anak dari ibu pekerja dinilai sebagai anak yang broken home, bermasalah, pemberontak, dan segala macam hal-hal buruk lainnya.

Buat gue, baik ibu rumah tangga atau ibu pekerja sama mulianya. so please jangan pernah dibanding-bandingkan lagi lah. karena keadaan di lapangan dengan teorinya bisa sangat berbeda. Buat gue perbandingan antara working mom dengan stay at home mom itu bukan perbandingan yang apple to apple, kalo mau ngebandingin itu sesama working mom atau sesama stay at home mom, working mom yang tanpa nanny atau yang dengan nanny atau stay at home mom yang pakai nanny dan yang tidak, itu baru sebanding kalo menurut gue.

Gue sendiri adalah anak dari seorang working mom juga, apakah kemudian gue jadi ga deket sama orangtua gue? Gue sangat sangat sangat dekat sama bonyok gue. Gue sendiri sekarang pun menjalani peran ganda, jadi Orangtua yang juga bekerja diluar rumah. Anak gue sekarang umurnya hampir 3 tahun (bulan depan genap 3 tahun) dan alhamdulillahnya dia tetep deket juga sama gue dan papapnya. Kita pakai nanny tapi tetap masalah pendidikan atau belajar ya baliknya ke orangtuanya lagi. Ibaratnya nanny hanya bantuin kita jagain si anak di jam kantor kita. Untuk di gue, nanny gue itu pulang dateng jam 5 pagi dan pulang begitu gue/adek gue/nyokap gue sudah ada yang pulang salah satunya. Weekend anak full sama kita. Kalo pas gue ga ngantor misal karena sakit dan si nanny ada dirumah juga, anak gue selama ini sih lebih milihnya nempel sama gue. Intinya gue ga setuju lah dengan stereotype kalo anak dari working mom itu kualitasnya ga lebih bagus dari anak-anak yang diasuh sama full time mom.

Dari kacamata working mom, gue yakin semua working mom sebenernya pengen banget bisa ada di posisi para full time mom ini, siapa sih yang ga mau 24 jam sama anak? Harus bangun subuh2, kadang pas mau berangkat kerja ada drama anak nangis ga mau ditinggal, trus kalo pas terpaksa harus lembur pulang malem atau dinas keluar kota, belum lagi kalo pas anak lagi sakit, duh itu rasanya patah hati banget lah buat working mom. Gue pribadi ngerasain banget kayak gitu, pernah gue pas belum lama cuti habis, anak gue sakit nih tapi gue tetep harus ngantor, itu dikantor gue ga fokus sama sekali, sampe akhirnya nangis di toilet karena kepikiran terus sama anak dirumah, bawaannya pengen pulang terus.

Tapi kayak yang udah gue tulis di atas, ga semua perempuan yang udah jadi ibu bisa dapat keistimewaan bisa jadi full-time mom. Banyak yang terpaksa harus jadi working mom karena kalo dia ga kerja, keluarganya ga bakalan bisa makan karena dia satu-satunya tulang punggung keluarga. Kalo ada yang bilang kan bisa kerja dirumah sambil jaga anak, itu buat yang ada modal ada kemampuan finansialnya baik mungkin bisa, tapi rezeki orang kan beda-beda ya, banyak yang ga punya modal atau skill sama sekali buat bisa menghasilkan uang dari rumah. Banyak juga kan full-time mom yang sebenernya malah pengen kerja, itupun juga gue jamin bukan sekedar buat gaya2an doang tapi karena emang pengen cari tambahan buat keluarga. Ya ga? Cuma pada akhirnya tetap jadi full-time mom karena memang sikonnya memang ga memungkinkan juga untuk dia kerja diluar rumah.

Gue sendiri jujur dalam hati gue yang terdalam pengen banget cepet2 resign dari pekerjaan gue, tapi memang sikonnya belum memungkinkan. Gue masih ada KPR yang jangkanya 7 tahun lagi atas nama gue yang ga bakalan bisa dilunasi sama suami gue seorang diri. Gue sendiri sudah menyusun rencana bakalan ambil pensiun dini ketika waktu gue sudah cukup (fyi, ada ketentuan pensiun dini yang harus dipenuhi di PNS). Dan di sepanjang masa persiapan itu gue harus usahakan dan persiapkan segalanya dengan matang mulai dari sekarang. Belajar dari pengalaman yang gue rasain sendiri sebagai anak dari seorang working mom, akan ada saatnya kita harus berusaha dan mengandalkan diri kita sendiri sebagai perempuan.

Gambar terkait
ilustrasi dari disini

Nyokap dulu pernah cerita kalo dulu dia pernah disuruh resign sama alm bokap gue dengan alasan suruh fokus aja ngurusin anak-anak biar bokap gue yang cari duit buat nafkah keluarga. Tapi nyokap gue ga mau, dia bersikeras mau tetap bekerja karena ga mau terlalu gambling sama masa depan terutama untuk anak-anaknya. Fyi, nyokap-bokap gue itu beda umurnya jauh banget, bokap kelahiran 1943 sedangkan nyokap gue kelahiran 1961, itung sendiri deh tu beda umurnya berapa. Pasti akan ada 2 pihak ini yang pro dan kontra kalo tau nyokap gue menolak resign dari pekerjaannya. Pasti akan ada yang bilang durhaka sama suami. Tapi bakalan ada yang bilang itu keputusan yang tepat.

Sedikit sharing, jadi di tahun 1999 pas indonesia lagi krismon itu, bokap gue pensiun. Itu gue di tahun itu masih SD, abang gue SMP dan adek gue baru mau masuk SD. Kebayang ga kalo seandainya nyokap nurutin permintaan bokap buat resign? Mungkin gue dan saudara2 gue ga bakalan bisa sekolah, jangankah sampe kuliah bisa lulus SMA aja belum tentu. Belum lagi di tahun 2011 bokap gue terkena stroke (sakit2annya mulai dari tahun 2009), dengan nyokap gue bekerja semua pengobatan bokap semasa sakitnya itu ditanggung sama kantor nyokap. Kebayang ga kalo nyokap nurutin permintaan buat resign? Bisa2 rumah dan segala isinya bakal kejual hanya untuk nutup biasa pengobatan bokap yang ga sedikit. Sedikit gambaran, bokap pernah dirawat selama 2 minggu di salah satu RS swasta di depok, yang padahal udah ditanggung biayanya pake Askes aja itu kita masih harus keluar uang sekitar 30 juta untuk pengobatan dan tindakan yang tidak di cover. Jadi gue sangat bersyukur nyokap gue mengambil tindakan yang tepat untuk tidak menuruti bokap saat itu, yang pada akhirnya toh bokap juga restuin istrinya jadi wanita karier ya memang karena bukan buat diri sendiri aja.

Makanya gue suka sedih aja kalo liat grup yang gue ikutin atau poas ngobrol sama temen yang sama2 ibu2 juga padahal, yang kadang suka sharing sesuai yang agak mendiskreditkan orang2 yang jadi working mom kayak gue. Yang dibilang menyalahi kodrat sebagai perempuan lah, bahkan kadang sampai bawa2 ayat kitab suci. Gue ga nyalahin mereka sih karena ya emang ada benernya juga tapi kan ga bener juga judge orang begitu ya. Kayaknya nyaris ga ada deh working mom yang kerja cuma sekedar buat gengsi doang. Apalagi jaman sekarang ya bo! Jaman yang emang kadang dituntut kalo perempuan bisa punya penghasilan sendiri karena bisa aja suami ninggalin kita sewaktu-waktu, kalo ga diambil Tuhan ya diambil orang secara Indonesia kayaknya udah darurat pelakor ya. Whoops! Nauzubillah min zalik ya. Semoga kita dilindungi dari orang-orang seperti itu ya.

Tapi beneran ada temen gue yang setelah nikah disuruh resign sama suaminya tadinya dia kerja di salah satu kantor pemerintah juga, eh ternyata pernikahannya ga harmonis karena suaminya KDRT, akhirnya buat ngelindungin anak-anaknya (anaknya udah 2 cuma beda setahun umurnya dan masih toddler pas dia bercerai) dia milih buat bercerai. Setelah cerai pun suaminya ga pernah menafkahi anak-anaknya. Kayak ngilang gitu aja. Otomatis mau ga mau dia yang pada akhirnya jadi tulang punggung keluarga buat menghidupi anak-anaknya. Kerja lagi, demi anak-anaknya karena dia ga mau dia ngeberatin orangtuanya, ga mau anak-anaknya ga bisa makan, dan ga bisa sekolah nantinya.

Akhir cerita gue cuma mau bilang untuk seluruh ibu, mama, mami, emak, indung, mimi, atau apapun sebutannya, entah apakah kalian working mom atau full-time mom, apakah mengasuh dengan ART atau tidak, apakah single fighter atau tidak, entah melahirkan secara caesar atau normal, apakah pernah mengalami baby blues atau tidak, apakah full ASI atau sufor, pada dasarnya peran sebagai IBU adalah istimewa. Dan akan tetap istimewa apapun pilihan kita dalam menjalani peran sebagai IBU. So, come on stop perang pendapat tentang apakah lebih baik menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier, dan segala perdebatan lainnya. Jadilah versi terbaik diri kita sebagai IBU untuk anak-anak kita. Ketika kita bisa menjadi versi terbaik kita sebagai IBU, gue yakin kita akan bisa menjadikan anak-anak kita versi terbaik dari dirinya tanpa perlu membandingkan dengan yang lain.