Senin, 19 April 2010

sebuah pernikahan

Semalem tiba2 aja nyokap ngomongin masalah pernikahan sama gue.

Nyokap : “Kamu tahun ini 23 tahun kan Sha..??”

Gue : “Iya..emang kenapa??”

Nyokap : “Udah mau 23 tahun kok belom ada dewasa2nya sama sekali..kapan mau nikahnya kalo gitu??”

Gue : “Lah terus kenapa gitu..?? Yha (panggilan gue di rumah) kan ga ada niat mau nikah tahun ini juga..”

Nyokap : “Ibu tu dulu nikah umur 23 tahun..kamu umur 23 masih kayak anak2..sama sekali ga dewasa..maunya masih main2 terus..mau nikah umur berapa kalo gitu terus??”

Gue : “Yaelah kenapa tiba2 ngomongin nikah sih?? Yha nikah juga masih lama..25-26 tahun lah..sekarang mah seneng aja dulu..ntar kan kalo udah nikah ga bisa seneng2 lagi..”

Kira2 begitulah omongan soal pernikahan antara gue dan nyokap. Entah kenapa, nyokap emang masih nganggep gue kayak anak kecil banget bahkan kalo dibandingin sama adek gue yang masih SMA (beda 7 tahun sama gue), beliau kadang masih nganggep gue lebih childish. Ga cuma nyokap, abang gue, dan beberapa temen gue ternyata juga punya pendapat yang sama. Gue juga gatau dasar penilaian mereka apa, mungkin karena mereka melihat gue memang masih terlalu suka untuk senang2 dan belum bisa serius menata hidup gue.

Balik ke soal pernikahan. Mungkin salah satu alasan gue (sama sekali) belum siap menikah di umur yang terbilang sudah termasuk matang, memang karena sikap childish gue itu. Seorang sahabat pernah berkata kepada gue, “jangan menikah karena batasan usia, tapi menikahlah saat kita sudah benar2 siap untuk terikat dan bisa bertanggungjawab atas pernikahan kita itu.” Dan gue akui, gue memang belum siap untuk itu semua. Jiwa egoisme gue masih sangat besar. Bayangan tentang sebuah pernikahan buat gue kadang jadi terlalu menyeramkan. Hilangnya kebebasan dan kesempatan untuk bersenang2. Semua hanya terfokus pada soal tanggungjawab. Tanggungjawab sama suami, orangtua (yang udah menikahkan), juga (nantinya) anak, dan terutama Tuhan, karena pas kita ngelakuin ijab kabul atau pemberkatan, kita secara langsung juga udah janji sama Tuhan untuk menjaga pernikahan kita itu.

Berbeda sama temen2 (sebaya) gue yang udah mulai memikirkan masalah pernikahan. Gue malah berfikir sebaliknya, gimana gue bisa memperpanjang waktu gue untuk bersenang2. Ada beberapa cerita dari temen2 gue yang udah merasakan pernikahan. Entah itu cerita buruk ataupun manis, tapi semuanya tetep jadi salah satu bahan pertimbangan gue soal dunia pernikahan. Kadang gue ngerasa salut sama temen2 gue yang berani ambil langkah untuk menikah muda. Tapi gue juga kadang ngerasa miris kalo ngedenger cerita pahit mereka soal pernikahan yang mereka jalanin selama ini.

Awal tahun ini, tepat sehari sebelum gue berangkat ke Bandung untuk menghadiri acara pertunangannya Teh Hana dan Pongky, seorang teman SMP-SMA tiba2 menelpon gue. Dia bukan teman dekat. Bisa dibilang kita cuma sekedar kenal aja. Gue juga agak heran sebenernya kenapa tiba2 dia nelpon. Untuk menghargai akhirnya gue terima telpon dari dia. Di telpon dia cerita panjang lebar soal pernikahannya. Dia bilang dia udah punya 2 orang anak (seorang balita umur 3 tahun dan bayi 6 bulan), dan saat itu dia sedang kesulitan uang dan minta bantuan gue untuk beli susu anaknya.

Dia cerita detail tentang kehidupannya sekarang. Suaminya yang cuma supir angkot dan sering sakit2an. Dia dan keluarga kecilnya tinggal di rumah kontrakan kecil di salah satu daerah yang terkenal kumuh di Depok. Benar2 kehidupan yang beda dari kehidupannya dulu. Setau gue, semasa SMP-SMA dia adalah salah 1 murid berprestasi, terutama dalam bidang olahraga renang. Udah banyak banget piala yang dia sumbangin untuk sekolah. Gue yang udah pernah main kerumahnya beberapa kali juga tau persis bagaimana kondisi finansial keluarganya. Jadi cerita dia soal kehidupannya yang sekarang sempet bikin gue ga percaya. Gimana caranya seorang yang kaya raya bisa tiba2 jatuh miskin begitu saja.

Sedikit jawaban gue bisa dapet dari ceritanya. Dia mengaku kalo menikah tidak dengan restu orangtua karena masalah perbedaan agama dan latar belakang suaminya yang bisa dibilang ga sederajat sama keluarganya. Karena dia bersikeras untuk tetep nikah sama pilihan hatinya, dia akhirnya harus rela untuk diusir dari rumah. Dan beginilah hidupnya sekarang. Hidup sederhana dengan 2 anaknya dan suaminya yang cuma punya penghasilan pas2an. Walau begitu dia mengaku senang sama hidupnya sekarang. Mungkin anak2nya yang jadi penguat untuk dia atau dia ingin tetap membuktikan kepada orangtuanya kalau dia tidak akan menyesali pilihannya dulu.

Pasti berat hidup seperti dia. Harus terbuang dari keluarga dan benar2 berjuang untuk bertahan hidup, apalagi dengan tanggungan 2 orang anak. Tapi gue salut karena dia bisa ngelaluin itu semua sampe sekarang. Mungkin udah ga ada kata bersenang2 lagi dalam kamusnya. Sekarang yang dia pikirkan cuma bagaimana keluarganya bisa tetap makan setiap hari. Mungkin juga dia sudah mulai bingung memikirkan bagaimana pendidikan untuk anak2nya nanti tanpa memikirkan pendidikannya sendiri. Sedangkan gue sendiri masih punya banyak rencana yang mau gue wujudkan sebelum gue benar2 terikat.

Cerita lainnya dari seorang sahabat dekat. Usia pernikahannya baru 1 tahun. Dan kemarin (tanggal 13 April 2010) dia dan suami baru aja dikaruniai seorang bayi laki2 mungil (Zayyan Parsa Alrizu). Banyak cerita bahagia yang gue denger dari dia. Tapi gue sering gue menangkap kesan jika dia belum sepenuhnya siap untuk pernikahannya ini. Banyak hal yang harus dia korbankan, contohnya adalah pekerjaan dan waktunya bersama teman2. Sejak dia menikah memang tidak banyak waktu lagi yang bisa dia luangkan untuk berkumpul dengan teman2nya. Semua waktu benar2 dia sediakan untuk suaminya tercinta.

Kemaren pas gue nengokin dia lahiran, gue juga sempet ngeliat langsung gimana dia masih canggung waktu gendong dan nyusuin anaknya sendiri. Dia nyusuin dengan susah payah dibantu seorang suster rumah sakit. Dari bibirnya sendiri dia sempet ngomong, “sense of mother gue belom keluar deh nih kayaknya..makanya gue butuh nyokap gue nih buat ngurusin anak gue juga”. Saat itu gue cuma bisa cengar-cengir aja. Hati kecil gue seperti mengingatkan kalau gue nantinya juga bakal ngalamin hal itu juga.

Begitu anaknya pulang kerumah, gue dan temen2 SMA gue juga sempet ngeluangin waktu buat nengokin si baby lagi. Disana tetap terlihat kalo dia juga masih canggung waktu nyusuin anaknya. Dia bahkan harus memanggil temennya yang berprofesi sebagai bidan untuk bantuin dia nyusuin saat itu. Dan pada saat si baby udah selesai nyusu, dia pun ga berani untuk nepuk2 anaknya (biar sendawa) dan lebih milih untuk menyerahkan tugas itu ke ibunya. Begitu si baby ada di tangan sang eyang, dia langsung gabung sama kita (temen2nya) dan seakan lupa sama anaknya. Ibunya sampai harus beberapa kali mengingatkan dia untuk melihat anaknya di dalem kamar.

Walaupun begitu, gue juga salut sama dia. Bisa dibilang dia lebih childish dibanding gue, tapi dia berani untuk mengambil langkah menikah muda di umurnya yang waktu itu baru 21 tahun. Umur yang buat gue malah jadi masa puncak gue bersenang2. Dan sekarang, saat umurnya belum genap 23 tahun, dia juga sudah harus mengemban tugas mulia sebagai seorang ibu. Walaupun terlihat jelas dia masih ingin bersenang2, karena sempat terlontar dari mulutnya keinginan untuk bisa berkaraoke dengan temen2nya seperti dulu, gue yakin dia bisa mengesampingkan semua itu demi keluarga kecilnya. Satu langkah berani yang belum tentu bisa gue lakukan.

Sebenernya kapanpun waktu yang kita pilih untuk menikah nanti, satu hal yang pasti harus kita lakukan adalah membuang jauh2 egoisme kita. Karena dalam pernikahan akan ada 2 kepala dan itu tidak akan bisa berhasil jika salah satunya masih mementingkan egonya sendiri. Semoga jika saat itu datang (saat menikah untuk gue), gue benar2 udah 100% siap untuk bisa terikat dan bertanggungjawab penuh dengan rumah tangga gue nantinya. Dan sambil menunggu saat itu datang, gue akan pergunakan waktu yang ada sebaik mungkin untuk mewujudkan semua rencana gue supaya kalo gue nanti udah menikah, gue akan bisa fokus sama keluarga dan kerjaan gue tanpa memikirkan egoisme pribadi gue.

Jumat, 16 April 2010

Mr. Right

Kadang saat seseorang jatuh cinta, dia selalu berkata bila pilihannya saat inilah yang paling tepat. Bahwa dia telah menemukan sang arjuna atau sang dewi cinta. Banyak yang bahkan telah menyusun banyak rencana bersama pasangannya. Tapi saat masalah mulai muncul satu per satu, semua yang telah ada hilang begitu saja. Tidak ada lagi cinta. Yang ada hanya benci dan caci. Tanpa pernah melihat bahwa orang tersebut pernah membuatnya bahagia.

Mungkin aku salah satu dari mereka. Yang selalu mengagungkan cinta saat semua terlihat indah di depan mata. Tapi pada saat aku merasakan sakitnya, aku akan berpikir apakah ini yang namanya cinta..?? Apakah aku memang telah memilih orang yang tepat..?? Apakah aku tidak akan menyesal nantinya jika terlanjur memilih orang yang salah..?? Tidak ada lagi bahagia, semua berubah menjadi dilema.

Banyak orang memakai cara berbeda untuk menyelesaikannya. Entah dengan main hati dan menduakan pasangannya. Mulai menabuh genderang perang untuk memusuhi pasangannya. Atau bahkan seperti aku, menenggelamkan diri dalam kesendirian. Apapun pilihannya, mungkin akan lebih bijaksana bila kita meluangkan waktu lebih lama untuk menanti seseorang yang benar2 tepat untuk kita dibanding harus menghabiskan waktu yang berharga dengan orang yang salah.

Rabu, 07 April 2010

pulang

Saat ini aku berada dalam kereta yang akan membawaku kembali ke Jakarta. Membawa serta kesedihanku dan meninggalkan semua senyumku di Yogyakarta. Selalu sulit bagiku tiap kali harus meninggalkan Yogya. Kota yang telah banyak memberiku kenangan. Tentang semua ceritaku, para sahabat setia, terutama tentang dia.

Aku benci tiap kali harus mengucapkan selamat tinggal pada kota ini walau hanya sementara. Disini aku mengukir cerita. Disini aku mengenang segalanya. Disini pula aku bisa melihat senyuman mereka. Orang2 yang memang pantas disebut sebagai sahabat.

Perpisahan kali ini terasa begitu berat saat aku menyadari banyak yang menyayangiku disini. Banyak yang tidak ingin aku pergi. Banyak yang ingin aku tetap disini. Berat rasanya saat harus menyaksikan airmata mereka turun mengantarkan kepulanganku.

Yogyakarta, kota ini sepertinya juga tahu bagaimana perasaanku saat harus pergi malam ini. Pagi tadi hujan membasahi Yogya, padahal hari2 sebelumnya Yogya selalu menunjukkan wajahnya yang cerah dengan langit birunya dan sinar matahari yang hangat. Tapi hari ini hujan, hujan yang sama derasnya seperti airmata mereka. Yogya seakan mencegahku pergi juga.

Ingin rasanya aku berteriak agar kalian tahu bahwa meninggalkan Yogya sama beratnya seperti kalian melepasku pergi. Aku berusaha tidak menangis agar kalian yakin aku akan kembali lagi kesini. Kelak tidak akan ada lagi tangis yang mengantar aku pergi. Kelak aku akan melihat wajah bahagia kalian yang menyambutku datang dengan berjuta rencana.

Mungkin kali ini aku memang tidak bisa tinggal lebih lama. Tapi dalam hati aku berjanji, aku pasti akan menginjakkan kakiku lagi disini. Akan akan tinggal selamanya. Yogya akan jadi tempat kemana aku akan pulang, bukan Jakarta. Aku ingin menghabiskan masa tuaku disini, bersama kalian dan dia. Bahkan aku berharap jasadku pun akan abadi dalam pelukan tanah Yogya. Semoga..

Selasa, 30 Maret 2010

era 90-an

Pas gue nulis tentang posting sebelomnya (nostalgia masa SD), ternyata ingatan gue terbongkar banyak. Banyak hal2 seru yang bisa gue bagi seputar masa2 tumbuh kembang gue di sepanjang tahun 1990-an. Makanya gue bikin posting baru khusus membahas hal2 itu karena mungkin dengan ini kalian (khususnya yang seangkatan ma gue) bisa inget lagi dan bisa flashback ke masa2 di tahun 90-an lagi. SELAMAT BERNOSTALGIA..!!

  • Masa jayanya lagu anak2. Ga kayak anak2 sekarang yang taunya lagu orang gede aja. Yah walaupun dulu yang muncul itu2 aja. Si komo (yang kerjanya bikin macet aja), ria enes dan susan (yang sampe sekarang ga gede2 juga..padahal dari dulu ditanyain mulu “susan2..kalo gede mau jadi apa..??” wkwkwkwkwk), trio kwek2, eno lerian, maissy (dengan slogan andalannya..”cii..luk..ba!! muaaah..!!), bondan prakoso (si lumba2 yang sekarang malah jadi rapper), melissa (yang kalo beli bakso cuma beli 200 perak tapi baksonya minta banyak..wkwkwkwkwk!!), dkk. Sekarang lagu2 mereka cuma bisa di denger pas ada odong2 aja. Mengenaskan..!!
  • Lebih banyak film kartun dan anak2, contohnya : Sailormoon (dengan kekuatan bulan akan menghukummu..!!), Dragon Ball, Ksatria Baja Hitam (dengan belalang tempurnya), Ultraman, Power Rangers (yang selalu dipanggil2 sama Gordon), Candy2, Doraemon (yang sampe sekarang juga tetep eksis), dan film 3D pertama REMI yang sempet memboom-ingkan kacamata 3 dimensi.
  • Film luar lebih banyak mendominasi tapi tetep disukain anak2, kayak McGyver, AirWolf, BayWatch, sama Lassey.
  • Lagi booming telenovela2 ga jelas kayak Maria Mercedes atau Rosalinda.
  • Sinetron Indonesia juga udah mulai merajai, kayak Tersanjung (jaman2 pemainnya masih Lulu Tobing), Tersayang, Noktah Merah Perkawinan.
  • Sinetron remaja juga banyak, kayak Lupus, Olga Sepatu Roda, Panji Manusia Milenium, Saras 008, dll.
  • Jamannya film2 kolosal juga kayak Kera Sakti, The Legend of The Condor Heroes, White Snake Legend, Wiro Sableng (kapak naga geni 212), Brama Kumbara.
  • Jam tayang acara TV dulu ga sepanjang sekarang (dengan channel TV yang juga ga banyak). Dulu tiap jam 9 malem acaranya udah abis dan ditutup sama acara Dunia dalam Berita dengan program andalan Prakiraan cuaca.
  • Ada iklan layanan masyarakat yang paling populer tentang gerakan anti epilepsi yang bunyinya gini, “Epilepsi tidak menular..” trus ada anak yang epilepsi minum n di ajak maen bola lagi sama temen2nya, “Ayo Di..maen bola lagi..” dan di akhir iklannya si anak itu (namanya Adi di iklan) bilang, “Adi sudah sembuh..dadah..!!”. Pa kabar ya Adi sekarang..?? Huahahahahaha..

  • Jajanan paling populer saat itu anak mas, coklat superman, permen telor cicak, permen jagoan neon (yang bisa bikin lidah berubah warna..huahahaha), atau chiki (supaya dapet tazos..dulu tazos gue banyak tu).

  • Masih inget banget deh yang namanya ngerengek2 minta dibeliin tamagochi ke bonyok karena temen2 yang lain udah pada punya duluan. Kayaknya anak2 taun 90-an kalo ga punya dino pribadi yang bisa dibawa kemana2 (baca : tamagochi) tu belom keren rasanya.

  • Dan gimbot, main tetris tapi sambil dikata2in. “bego lo..!!”, kalo kita salah nempatin balok tetrisnya, atau “oke juga..!!” kalo kita bener. huehehehe. siapa yang punya ide bikin mainan jayus gitu sih..??

  • Lagi heboh in-line skate (sepatu roda yang rodanya jejer dalam 1 baris), saking boomingnya sampe2 pas acara 17-an di tiap RT diadain lomba masukin belut dalem botol tapi pake in-line skate dan gue selalu menang..hehehe..

  • Selain mainan modern kayak tamagochi, nintendo, dsb. mainan tradisional juga lagi berjaya, kayak biji karet (yang mainnya di adu sama biji karet lain), gangsing, kutu loncat, gundu, yoyo (yang kadang bisa keluar api, tapi lebih sering kusutnya), layangan, bola bekel, congklak (tapi gue ga bisa mainnya..hehehe), karambol (yang harus dipakein bedak dulu biar licin papannya), dll.

  • Saat itu juga lagi populer banget yang namanya tas merek alphina, sama sepatu ala militer dengan sol tebel (merek docmart), gue selalu pake sepatu itu ke sekolah (kembaran sama abang gue). Gaya bener dah padahal masih SD..!! Tapi hebatnya emang tu sepatu ga rusak2 sampe ga muat lagi dipakenya. Selain Docmart, gue juga sempet pake sepatu yang ada lampunya (kalo jalan sengaja dihentak supaya lampunya nyala..hehe). Ga banget deh kalo dibayangin lagi sekarang..!!

  • Untuk urusan jam tangan, gue sempet punya baby-G yang talinya bisa diganti2 itu loh..!! hehehe. Pokoknya udah paling gaya deh..!!

  • Dulu gue suka banget ngumpulin kertas surat yang ada gambar2 kartunnya dan (kadang) baunya wangi. walaupun ga pernah dipake buat surat2an.

  • Potong rambut ala melissa si abang bakso itu. Kalo sekarang model rambutnya dora gitu. Rambut ga sampe sebahu dipotong rata pake poni.

  • Anak2 tahun 90-an dulu juga pake bahasa G. semua kata ditambahin dengan suku kata G didalemnya. Contohnya : Nagamaga Sagayaga Agachaga (Nama Saya Acha).

  • Belom jaman pake HP, tapi pake Pager (yang kata Sweet Martabak bunyinya tidit..tidit..). Kalo mau kirim pesen harus telpon operatornya dulu baru sampein pesennya. Benar2 ga efektif. Ga bisa mesra2an apalagi kirim pesen rahasia.

  • Maen “Do-Mi-Ka-Do” atau nenek gerondong minta anak, atau saya orang miskin-saya orang kaya, atau donal bebek mundur 3 langkah.

  • Komputer masih pake program DOS, lotus 123, dll. Disketnya juga masih yang kotak tipis warna item (ukuran kira2 5 1/2”) dan ada penahan disketnya setelah dimasukin ke drive-nya.

  • Masa jayanya dunia perbulutangkisan Indonesia, dengan bintang yang saat itu sedang berjaya antara lain : Susi Susanti, Alan Budikusuma, Hendrawan, dkk. Tiap ada pertandingan bulu tangkis pasti disirain langsung di semua channel TV, mau itu pertandingan lokal ataupun internasional.

  • Terutama buat cowok, lagi gandrung pake rante2 dompet yang segede2 rante kapal. Rantenya dikaitin sama dompet n tempat gespernya.

  • Beberapa kata2 dalam bahasa gaul yang saat itu lagi trend adalah bokin, doi, madol, spokat, boil, kece, nyemot, dll.

  • Hampir semua anak (kebanyakan anak cewek) punya diary atau agenda kecil (yang ada gemboknya), tapi fungsinya bukan buat nulis curhatannya tapi malah jadi tempat buat ngumpulin biodata temen2. Mulai dari nama, alamat, sampe kadang ada kata2 kiasan atau pantun2 yang gajebo. Misal : Acha Enwe, mudah diingat sulit dilupakan. (^o^)v

  • Belom ada yang namanya kamera digital. semuanya masih analog dengan nama beken tustel.

  • Belom ada DVD atau VCD player. Yang ada cuma laser disc yang kasetnya segede piringan hitam (vinyl) punya kakek nenek gue. Jurassic Park pertama aja munculnya dalem format laser disc.

  • Bioskop mungkin saat itu udah ada, tapi film yang diputer kebanyakan film2 luar.

  • Gue juga sering beli kabel warna/i buat dibikin jadi gelang, dan kadang gue jualin ke temen2 gue yang ga bisa bikin sendiri dengan harga Rp.500,-/buahnya. Sayangnya sekarang gue dah lupa cara bikinnya jadi gue ga bisa jadiin ini lahan bisnis lagi. hehehe..

Huaaa..ngebahas semua ini jadi kangen sama masa kecil deh..!! Beruntungnya kita yang merasakan tumbuh di tahun 90-an karena banyak banget hal2 yang bisa dikenang sampe sekarang.

Senin, 29 Maret 2010

nostalgia masa masih muda dulu (SD)

Mari bernostalgia ke masa2 berseragam putih merah dulu. Gue menyelesaikan 6 tahun pendidikan dasar gue di SDN Depok Baru 3, sekolah dasar deket rumah. Mungkin ga banyak yang masih gue inget tentang masa2 SD gue, tapi akan gue coba tulis semua yang masih membekas di hati dan pikiran gue. Haiah..!!

Selama 6 taun gue sekolah disana, gue selalu dapet kelas A (pas jaman gue tiap kelas disana terbagi jadi 2, yaitu A dan B) tapi dengan temen sebangku yang berbeda2. Kelas 1-2 gue sebangku sama Yasinta Hanifah (Putri), sahabat depan rumah, tapi begitu naik kelas 3 dia pindah ke Cimanggis. Di kelas 3-5 gue sempet ganti temen sebangku lagi, antara Nydia Harkasari Sirait (Butet), sama Inda Fajri Hadiany (Inda). Dan di kelas 6 gue duduk sendiri di bangku paling belakang (deret ke-4) baris pertama dari pintu. Dengan urutan di deret pertama Sari-Citra, deret ke-2 Inda-Nia, deret ke-3 Huda-Angga, dan deret ke-4 gue sendiri. Jiah masih inget gitu gue..!! Hahaha..

Jadwal masuk sekolahnya pun tiap kelas beda2. Pas kelas 1, gue masuk jam 7 dan pulang jam 10 pagi. Pas kelas 2 pulangnya jam 11 siang. Kelas 3-4 gue masuk siang. Masuk jam 1 siang dan pulang jam setengah 5 sore. Kelas 5-6 gue masuk pagi lagi dari jam 7 pagi sampe jam 12 siang. Untuk seragam mungkin ga jauh beda sama anak2 SD negeri lainnya. Senin seragam putih2, Selasa-Kamis seragam putih merah, Jum’at batik, dan Sabtu Pramuka. Bedanya dari jadwal pelajaran olahraga (kalo ada olahraga biasanya langsung pake baju olahraga dari rumah), dan kegiatan lainnya (kalo gue ikut dokcil, pake seragamnya tiap Senin sama Kamis).

Dan gue masih inget julukan yang temen2 SD kasih buat gue. Sapu lidi dan rambut aspal. Dulu emang badan gue paling tinggi dan paling kurus di antara temen2 gue makanya gue disebut sapu lidi. Julukan yang kurang tepat kalo diberikan sekarang mengingat badan gue sudah sangat tidak sekurus dulu lagi. Hehehe. Dan soal rambut aspal,semasa SD rambut gue emang panjang banget sepantat (mulai kelas 4 SD), dan tipe rambut gue emang sangat lurus dan jatoh banget, dari situlah mereka kasih julukan rambut aspal buat gue karena nganggepnya rambut gue lurusnya dah kayak jalanan yang baru di aspal.

Cita2 gue dari kecil ga kayak anak2 lain yang tiap ditanya jawabannya berubah. Dari gue TK, tiap ditanya cita2 gue selalu bilang pengen jadi dokter. Di SD gue juga tetep pengen jadi dokter, dari situ gue berusaha ngewujudin cita2 gue itu dengan langkah awal ikut kegiatan dokter kecil (dokcil) di SD. Bangga rasanya tiap senin dan kamis (kalo ga salah inget), pake seragam yang beda dari temen2. Gue masih inget banget seragam dokcil gue, rok putih dengan baju warna putih juga detail kancing samping (kiri) dan di dada kanan ada pin palang merah, pake topi putih berlambang palang merah. Sayangnya cita2 gue jadi dokter terpaksa gue kubur dalem2 pas SMP setelah gue sadar (pas masuk PMR) kalo ternyata gue punya phobia terhadap darah. Sejak saat itu gue ga punya cita2 sampe sekarang. Hehehe..

Ngomong2 soal dokter kecil, gue jadi inget sama 1 kejadian yang pernah menimpa gue sepulang sekolah. Gue pernah ketabrak motor di depan sekolah pas mau nyebrang jalan. Saat itu gue kelas 4 SD dan seinget gue, saat itu gue lagi pake seragam dokcil. Seperti biasa gue pulang bareng sama temen2 gue, dan karena rumah gue emang deket makanya gue ga pernah di jemput. Pas mau nyebrang jalan, setelah dadah2 sama temen2 gue tiba2 aja. Braaaaak..!! Tiba2 gue udah berada di tengah jalan dengan banyak orang yang mengerubungi gue. Gue bingung. Dan wali kelas gue saat itu (Bu Sulbiah) ngebujuk2 gue untuk ke RS padahal gue ngerasa ga kenapa2. Gue cuma bingung saat itu, gue ga nangis, gue bahkan ga ngerasa sakit sedikitpun padahal menurut orang2 itu gue mental sekitar 2 meter dan jatoh lumayan keras di atas aspal. Tapi ajaibnya gue sama sekali ga berdarah.

Akhirnya sore itu gue dibawa ke RS Bakti Yudha dengan dibonceng sama orang yang nabrak gue tadi. Disana setelah diperiksa gue emang ga kenapa2, cuma kaki n tangan gue baret2 kena aspal tapi ga parah (ga sampe robek atau ngelupas), cuma kayak abis jatoh dari sepeda aja. Pulang dari rumah sakit gue dijemput nyokap yang masih pake seragam kantornya. Gue juga masih inget, sebelom pulang orang yang nabrak gue sempet ngasih gue duit Rp10.000,00 yang gue pake untuk beli tamiya. hehehe. Saat itu gue emang ga kenapa2, tapi begitu sampe rumah, nyokap yang langsung mandiin gue kaget setengah mati waktu tau badan gue memar (dari perut sampe ke punggung). Langsung malem itu juga gue cek lagi ke RS karena takutnya ada luka dalem, alhamdulillahnya sih ga kenapa2. Dokternya bilang itu cuma benturan aja, ga sampe ada pendarahan di dalemnya. Sakit akibat tabrakannya baru terasa malem itu dan seminggu sesudahnya karena gue ga bisa ngapa2in. Tiduran aja sakit bener.

Balik ke cerita, di sekolah gue dulu tiap jum'at dan sabtu kita selalu olahraga pagi di lapangan upacara (jum'at senam jumsih & SKJ, kalo sabtu pencak silat yang pake musik itu, ga tau namanya apa) dengan baju olahraga warna ijo muda dan celana hotpants (setengah paha) warna ijo tua. Sekarang ritual kayak gitu udah ga ada lagi. Baju olahraganya juga udah ga sama kayak dulu. Pas jaman ade gue sekolah disitu aja baju olahraganya warna biru muda dan udah pake celana panjang.

Soal mainan populer jaman SD dulu ga semodern mainan anak sekarang. Yah walaupun gue juga ngerasain main video game (nintendo & sega, yang entah generasi ke berapa), tapi kebanyakan gue main mainan tradisional yang mungkin anak2 sekarang udah ga tau itu apa. Untuk anak2 ceweknya mainan yang paling populer adalah bekel, lompat tali (pake karet gelang yang di untai jadi panjang - gue paling jago tu dulu kalo bagian koprol), congklak, sama orang2an kertas yang dijual di abang2 (yang bisa diganti2 bajunya..dan kadang lehernya putus karena kita sering gantiin bajunya dan akhirnya diselotip lagi lehernya). Tapi berhubung gue udah dari dulu emang agak menyimpang dari jalur,gue lebih sering main sama cowok, main benteng, gangsing, yoyo, galasin, kasti, petak umpet, petak jongkok, sama tamiya (dulu harganya kisaran 12.000-30.000 ) yang jarang banget bisa gue rakit sampe bener2 jadi.

Dari sekian banyak mainan, gue lebih suka main di alam. Dulu sebelum keluarga gue punya mobil, gue punya halaman kecil di rumah yang penuh sama pohon buah. Dari pohon jambu biji, jambu air (yang merah sama ijo), belimbing, sampe pohon mangga juga ada. Dan tempat favourit gue untuk main adalah di atas pohon. Gue suka sensasi ketiup angin pas gue lagi ada di puncak pohon. Dan pohon itu (terutama pohon jambu air ijo/jambu susu) juga jadi tempat persembunyian gue kalo lagi kabur2an. Entah kalo gue lagi ga mau tidur siang atau lagi pengen bolos ngaji atau les, gue pasti bakal nangkring di atas pohon itu. Kalo udah kayak gitu nyokap gue pun udah ga bisa ngapa2in lagi selain nungguin gue untuk turun sendiri. hehehe. Bener2 kenangan yang susah dilupain banget.

Gue juga sempet punya pistol mainan yang pelurunya bulet2 kecil warna warni (ukurannya sekitar 6 mm). pistolnya harganya sekitar Rp.5000,00-Rp.15000,00. harga pelurunya sekitar Rp1000,00. Pistol ini terkenal sakit banget kalo kita sampe kena pelurunya. Gue nyaris bikin anak orang (tetangga gue) buta karena (ga sengaja) nembakin pelurunya ke arah dia dan pecahan pelurunya mantul ke matanya. Sejak saat itu pistol gue disita sama bonyok supaya ga ada lagi yang jadi korban kenakalan gue. hehehe.

Beralih ke soal jajanan SD. Dulu gue dapet uang jajan sekitar Rp.500,00-Rp.1000,00 tergantung mood bonyok gue. Kalo lagi baek kasihnya Rp.1000,00 atau bahkan lebih, kalo lagi pelit ya ngasihnya cuma Rp.500,00 aja dengan alesan supaya gue ga jajan sembarangan. Jajanan yang paling terkenal di SD gue dulu adalah es bang oleh (sekarang udah entah kemana tu bang olehnya), cireng (yang ditusuk ke sebatang lidi dan dibentuk kayak paha ayam trus makannya di celupin ke saos), arum manis, dll. tapi berhubung gue ga boleh jajan kayak gituan sama nyokap gue, paling duit jajan gue abis buat beli kartu bergambar (buat maen tepok kartu – belinya di bang kardi, dan percaya atau tidak sampe sekarang orangnya masih jualan juga di depan sekolah gue), balon tiup, atau beli anak ayam warna/i. Kalaupun gue jajan, gue paling jajan makanan kemasan (yang katanya) lebih higienis kayak anakmas, coklat superman, permen telor cicak, permen jagoan neon (yang bisa bikin lidah berubah warna..huahahaha), atau chiki (supaya dapet tazos..dulu tazos gue banyak tu), dll.

Kalo di inget2, jaman2 gue SD malah masa2 penuh dengan jadwal. Bonyok gue yang kerja dua2nya menjejali anak2nya dengan berbagai macam kegiatan dengan harapan bakat anak2nya bisa terasah. Hidup bener2 teratur sesuai jadwal. Kapan sekolah, kapan main, kapan tidur siang, kapan les, kapan ngaji, semua udah di atur, tapi ya namanya anak kecil ada aja alesannya, gue juga sering kabur2an pas waktunya les atau ngaji. Tapi kayaknya semuanya percuma kalo liat sekarang ga ada 1 pun dari kegiatan2 itu yang menempel di diri gue (ya mungkin dampak dari kabur2annya gue dulu kali ya..), makanya kadang nyokap gue bilang kalo gue adalah manusia tanpa bakat karena ga ada 1 hal pun yang bisa gue lakukan dengan baik dan benar. hehehe..

Balik lagi ke sekolah. Jaman SD dulu gue paling empet banget sama pelajaran IPS yang mengharuskan kita menghapal semua nama menteri kabinet dan perdana menteri2 waktu itu. Modyar ga tu ngapalin nama orang sebanyak itu..!! RPUL-RPAL bener2 jadi buku wajib anak SD. Anak2 sekarang beruntung ga perlu ngalamin kayak gue. Pelajaran yang paling gue inget adalah Menulis Indah (tulis sambung) pake buku garis tiga dan gue ga pernah dapet nilai tinggi untuk pelajaran ini.

Dulu tu gue seneng banget manjangin kuku, padahal udah jelas2 dilarang. Jadi tiap senin atau jum’at gue harus ngegigitin kuku gue supaya lolos pemeriksaan kuku sama guru2 atau gue bakal kena sabet penggaris papan tulis yang gede itu. Selain pemeriksaan kuku, ada guru gue namanya Pak Is (yang kurang kerjaan banget) hobinya periksain kebersihan badan murid2nya, mulai dari nyiumin rambut sampe ngeliatin kebersihan kuping. Kalo di anggep bau atau kotor biasanya beliau menghukum kita dengan push up 5-10 kali di depan kelas. Udah kayak di militer aja deh..!! lagian yang namanya anak SD mah semuanya emang bau matahari Pak..!! Wkwkwkwkwk..

Ngomongin soal gue, ada beberapa guru yang masih sangat gue inget selain Pak Is itu. Salah 1 guru yang paling di takutin adalah Pak Wandi. Beliau udah terkenal killer sejak abang gue sekolah disitu. Gue sempet parno juga dulu, apalagi pas tau kalo kelas 6 beliau bakal jadi wali kelas gue. Tapi semua omongan itu ga semuanya terbukti. Beliau emang tergolong keras kalo ngajar, tapi ga seserem yang di bilangin kakak2 kelas gue dulu. sayangnya sekarang banyak guru2 yang udah pindah dan ga ngajar disana lagi. Hmm..jadi kangen temen2 deh!! kapan ya kira2 bisa kumpul2 lagi..??